Rudenim Tanjungpinang Pastikan Anak Pengungsi Dapat Pendidikan: Datangkan Guru Khusus!

Rudenim Tanjungpinang Pastikan Anak Pengungsi Dapat Pendidikan: Datangkan Guru Khusus!

Rudenim Tanjungpinang Pastikan Anak Pengungsi Dapat Pendidikan: Datangkan Guru Khusus!
tribunnews batam/wafa
Ilustrasi. Sebanyak 16 orang anak buah kapal (ABK) nelayan asing asal Kamboja tiba Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Kota Tanjungpinang, Kamis (27/10/2016) 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG- Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Tanjungpinang menuturkan pihaknya memisahkan para pencari suaka yang memiliki keluarga dan belum berkeluarga. Hal itu dilakukan demi melindungi kejiwaan anak yang masih di bawah umur.

Baca: BREAKINGNEWS: Ade Angga Ngaku Siapkan Skenario Ini Jika Syahrul Mendepaknya di Pilkada!

Baca: Terungkap! Inilah Prajurit Cakra Penyelamat Polisi Sukitman di Lubang Buaya. Kisahnya Menegangkan!

Baca: BNN Tes Urine Ratusan Satpol, Kabid Trantib Absen. Ditanya Ini, Mengejutkan Jawaban Kasatpol Kepri!

Baca: Heboh Tambang Timah di Bintan, Bupati Apri Sentil Dinas ESDM Kepri. Begini Reaksinya!

"Ia memang kita pisahkan. Untuk menghindari pengaruh pada kejiwaan pada si anak. Memberikan hak-hak anak agar bisa berkembang seperti anak pada umumnya," ujar Kepala Bidang Penempatan Keamanan Pemulangan dan Deportasi (PKDP) Rudenim Tanjungpinang Agung Asrawinata‎ ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/10/2017).

Anak-anak pun menjalani kehidupan seperti layaknya anak pada umumnya. Mereka tetap mendapatkan hak pendidikan. Ada guru khusus yang mengajari mereka sekolah di dalam Rudenim. Ada program khusus belajar anak-anak yang disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan mereka.

Menurutnya, untuk penampungan pencari suaka berkeluarga dipisah di bawah wewenang Imigrasi. Ditanya soal populasi pencari suak‎a, ia mengaku data berada di Imigrasi. Sehingga ia tidak bisa menjelaskan secara detail.

Jumlah penghuni Rudenim bulan ini mencapai‎ 354 orang. Mereka berasal dari tujuh negara timur tengah. Mayoritas mereka berasal dari Afganistan.

Jumlahnya mendominasi dengan 211 orang pencari suaka. Sisanya dari Irak 2 orang, Iran 1 orang, Sudan 72 orang, Somalia 58 orang, Yaman 3 orang dan Pakistan 2 orang.

"Paling banyak memang dari Afganistan. Karena di sana daerah yang sangat rawan konflik. Untuk negara ketiga sepenuhnya pihak IOM (organisasi kemanusiaan PBB) yang menentukan," kata Agus.

Untuk status negara ke tiga, hal itu merupakan kewenangan IOM yang berhak menentukan pencari suaka mendapatkan negara ke Tiga. Pihaknya hanya sebatas sebagai instansi yang orientasinya pada misi kemanusiaan dengan cara menampung mereka. (*)

Penulis: Wahib Wafa
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved