TribunBatam/

HEBAT! Kampung Ini Dulu Kumuh, Kini Jadi Tempat Wisata Warna-Warni dan Bebas Asap Rokok

Ada sekitar 100 rumah di kampung tersebut, 70 rumah di antaranya sudah dicat warna-warni dan lainnya belum dicat karena keterbatasan biaya.

HEBAT! Kampung Ini Dulu Kumuh, Kini Jadi Tempat Wisata Warna-Warni dan Bebas Asap Rokok
kompas.com
Kampung Penas Tanggul, di Jalan Pancawarga 30, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, Salah satu kampung warnia warni di bantaran kali. 

TRIBUNBATAM.ID- Salah satu permukiman warga yang dulu kumuh dan kini disulap menjadi kampung warna-warni di bantaran kali, Kampung Penas Tanggul, di Jalan Pancawarga 30, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, punya aturan sendiri soal kawasan berwarna-warni dan bebas rokok.

Sejak pertengahan Maret 2017, tampilan kampung tersebut mulai berubah. Secara bertahap, rumah-rumah penduduk di sana diperbaiki dan dipercantik dengan sentuhan warna yang berbeda-beda.

Seorang anggota karang taruna, Nobby Sail (23), yang juga Ketua Tim Penggerak Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok Penas Tanggul menjelaskan, dia bersama warga ingin menjaga kebersihan dan memperindah kampungnya yang berada di bantaran sungai.

Selain menambah kenyamanan warga, dia berharap kampung tersebut bisa menginspirasi warga di kampung lainnya untuk mengubah kesan kumuh.

"Awalnya kami itu studi banding ke kampung warna-warni di Jogja dan belajar analisa social tobaco control. Setelah pulang, kami share ke warga dan warga sepakat menerapkan di kampung kami," kata Nobby, saat ditemui di Kampung Warna-Warni Tanpa Rokok Penas Tanggul, Cipinang Besar Selatan, Jakarta Timur, Senin (30/10/2017).

Usai bermusyawarah dengan warga dan didapat kesepakaran, pada pertengahan Maret 2017 rumah-rumah warga mulai dirapikan dan di cat warna-warni.

Mulanya, kata Nobby, untuk mengecat rumah, setiap warga patungan Rp 20.000 per rumah. Dana yang terkumpul saat itu sekitar Rp 2 juta dan kemudian digunakan untuk mengecat tembok serta pagar dan jembatan akses masuk kampung tersebut.

"Setelah itu, kami juga pakai uangnya buat bikin proposal, buat dapatin sponsor dari perusahaan yang ada di sekitar sini. Kami juga galang dana dari bazaar yang kami buat di sini," kata Nobby.

Ada sekitar 100 rumah di kampung tersebut, 70 rumah di antaranya sudah dicat warna-warni dan lainnya belum dicat karena keterbatasan biaya.

Menurut dia, biaya pengecatan rumah tidak akan lagi membebani warga sehingga tim penggalang dana akan mencari sponsor dan menjual pakaian bekas.

Sementara itu, soal kampung bebas rokok, Nobby mengatakan aturan itu sudah disepakati hampir seluruh warga Kampung Penas Tanggul. Larangan merokok dibuat agar kampung lebih ramah anak dan ramah perempuan.

"Jadi di rumah-rumah ada stikernya. Dilarang merokok di dalam dan teras rumah. Hampir semua rumah sudah pasang stiker, artinya mereka setuju soal aturan yang dibuat bersama-sama," kata dia.

Nobby menjelaskan, warga dilarang merokok di dalam dan teras rumah. Namun, masih diperbolehkan merokok di luar rumah. Akan tetapi, ada waktu-waktu yang memang tidak diperkenankan untuk merokok, seperti saat rapat warga dan pengajian.

Rencana lainnya, kata Nobby, akan dibuat tempat khusus merokok di kampungnya agar tidak ada lagi warga yang merokok di luar tempat merokok tersebut.

"Untuk rokok, masih banyak pro dan kontra. Tapi kami sebagai tim, anggap ini adalah proses. Kami juga masih berjalan setengah tahun. Secara bertahap pastinya dan kami anggap ini sebagai proses belajar," ujar Nobby. (kompas.com/ANGGITA MUSLIMAH MAULIDYA)

Editor: Sri Murni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help