Nasib Hidup Di Perbatasan, Cari Sinyal Saja Harus Di Ujung Jendela

Pemandangan telepon genggam yang dijepit diantara kunci jendela, seakan jadi hal lumrah di desa ini.

Nasib Hidup Di Perbatasan, Cari Sinyal Saja Harus Di Ujung Jendela
KOMPAS/ANGGER PUTRANTO
Warga Desa Tampang Muda, Andi Supriadi (24) harus naik ke sebuah pohon untuk mengakses sinyal telepon selular di tepi pantai Desa Tampang Muda, Kecamatan Pematang Sawah, Kabupaten Tanggamus Lampung Jumat (29/1/2016). Saat pemerintah meluncurkan jaringan internet cepat 4G LTE, sejumlah daerah masih kesulitan mengakses sinyal untuk telepon dan layan pesan singkat. 

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS - ‎Akses telekomunikasi kini telah menjadi kebutuhan.

Tak hanya di kota-kota besar, kebutuhan akan akses telekomunikasi, juga masuk hingga ke sela-sela daerah pinggiran seperti desa.

Yang menjadi pembeda hanya cara mendapatkan akses telekomunikasi yang didapat dengan mudah di kota dengan di desa.  

Seperti di Desa Air Putih, Kecamatan Siantan Timur. Untuk mendapatkan sinyal telekomunikasi untuk melakukan panggilan telepon, warga harus berjuang untuk mencari titik sinyal.

Warga pun bahkan sudah mengetahui lokasi-lokasi mana yang mendapat sinyal, salahsatunya di ujung jendela rumah warga. 

Pemandangan telepon genggam yang dijepit diantara kunci jendela, seakan jadi hal lumrah di desa ini.

Mereka pun, seolah sudah terbiasa dengan kondisi yang cenderung kurang lazim bagi masyarakat kebanyakan.

"Kami biasa seperti ini, Bang. Kalau di sini, dapat lah dua tiga balok sinyal," ujar Khairudin salahseorang warga Minggu (5/11/2017). 

Tidak hanya menjepit telepon genggam di ujung jendela rumah, di desa dengan jumlah 114 Kepala Keluarga ini, sejumlah titik sinyal telekomunikasi biasa mereka temukan di SDN 003 Desa Air Putih.

Sinyal telekomunikasi ini, diketahui berasal ‎dari pantulan Desa Batu Belah yang berjarak tidak jauh dari desa mereka tinggal.

Mereka pun hanya bisa pasrah, ketika sinyal yang mereka cari tidak kunjung mereka dapatkan. 

"Kadang dapat, kadang tidak Bang," ujarnya.

Meski belum terjamah dengan sinyal telekomunikasi dengan layak, namun masyarakat desa mulai merasakan akses internet melalui WiFi Nusantara program kementrian yang terpasang di sekitar lokasi sekolah. 

Hanya saja, akses layanan internet secara gratis ini pun, masih terbatas dirasakan masyarakat desa. Penyebabnya, ketersediaan listrik yang masih bergantung pada generator yang dioperasikan secara swadaya. 

"Biasanya (kalau internet,red) dari pukul lima sore hingga pukul dua belas malam. Kecuali, kalau sekolah beroperasi, ‎ya dari pagi itu lah," beber Isfirman warga lainnya seraya mengatakan kalau pemasangan perangkat tersebut baru dilakukan belum lama ini.  (*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Abd Rahman Mawazi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help