TribunBatam/

Inilah Retko Mladic, Otak Pembantaian 8.300 Etnis Muslim Bosnia. Di Usia Tua Dia Menunggu Ini

Pengadilan Kriminal untuk Kejahatan Perang Yugoslavia (ICTY) di Belanda, bersiap memvonis penjahat perang Serbia, Ratko Mladic.

Inilah Retko Mladic, Otak Pembantaian 8.300 Etnis Muslim Bosnia. Di Usia Tua Dia Menunggu Ini
Enrique FOLGOSA/AFP
Ratko Mladic (kanan), dan wakilnya, Milan Gvero, saat 1993. Mladic dianggap menjadi otak pembantaian 8.300 orang etnis Muslim Bosnia, dan pembersihkan terhadap 2,2 juta orang dari Serbia-Bosnia. 

TRIBUNBATAM.ID- Pengadilan Kriminal untuk Kejahatan Perang Yugoslavia (ICTY) di Den Haag, Belanda, bersiap memvonis penjahat perang Serbia, Ratko Mladic.

Jaksa penuntut ICTY, Serge Brammertz, berkata dengan sangat yakin hakim akan memvonis bersalah jenderal 74 tahun tersebut dalam sidang vonis pada Rabu (22/11/2017).

Keyakinan itu didasarkan persidangan selama empat tahun yang sudah menghadirkan 591 saksi dan 10.000 bukti kejahatan terpisah.

Mladic dipercaya menjadi otak dari pembantaian Srebrenica, Juli 1995.

Saat itu, sekitar 8.300 laki-laki dewasa dan anak-anak etnis Muslim Bosnia dibantai.

Baca: Meski Dilarang MK, Warga Serbia di Bosnia Tetap Ingin 9 Januari Hari Libur Nasional. Mengapa?

"Kasusnya mungkin menjadi salah satu yang terpenting sepanjang sejarah ICTY ini," kata Brammertz kepada The Guardian. Brammertz berkata, Mladic telah menjadi perwujudan iblis atas berbagai kekejaman yang dilakukan terhadap etnis Muslim Bosnia dan Bosnia-Kroasia.

Sebab, selain membantai 8.000 etnis Bosnia, Radic juga menawan 200 personel militer NATO. Mereka dijadikan tameng manusia agar NATO tidak melancarkan serangan udara kepada pasukan Serbia-Bosnia.

"Berdasarkan berbagai bukti ini, saya berharap pengadilan menjatuhkan vonis tertinggi, yakni seumur hidup," kata Brammertz dikutip kantor berita AFP. Namun, kuasa hukum Mladic, Miodrag Stevanovic, menuduh persidangan ini sebagai "teatrikal politik belaka".

Dia meminta ICTY meringankan hukuman kliennya karena Mladic sudah tua dan sakit-sakitan.

Halaman
12
Editor: Sri Murni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help