Dihukum Seumur Hidup, Jenderal Pembunuh Ribuan Muslim Bosnia Ini Menceracau di Sidang

Pengadilan juga memutuskan bahwa pembantaian sekitar 8.000 muslim Bosnia tahun 1995 di Srebrenica timur laut termasuk dalam genosida.

Dihukum Seumur Hidup, Jenderal Pembunuh Ribuan Muslim Bosnia Ini Menceracau di Sidang
scereengrab
Jenderal Ratko Mladic (74) menceracau di pengadilan internasional PBB Den Haag setelah divonis seumur hidup atas kejahatan perang dan kemanusiaan serta pembantaian muslim Bosnia tahun 1995. 

TRIBUNBATAM.id, DEN HAAG - Setelah lebih 20 tahun menunggu, akhirnya keluarga korban pembunuhan massal, muslim Bosnia Herzegovina bisa bernafas lega.

Jenderal Ratko Mladic (74), mantan komandan militer Serbia Bosnia dinyatakan bersalah oleh pengadilan internasional PBB dan dijatuhi hukuman seumur hidup, Rabu (22/11/2017).

Ratko Mladic dinyatakan bertanggung jawab melakukan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan dalam konflik tahun 1990-1995.

Pengadilan juga memutuskan bahwa pembantaian sekitar 8.000 muslim Bosnia tahun 1995 di Srebrenica timur laut termasuk dalam genosida atau pemusnahan manusia.

Pengadilan tersebut mengharu-biru karena keluarga korban menyaksikan langsung persidangan tersebut di televisi.

Keluarga korban genosida muslim Bosnia menonton persidangan me\lalui televisi.

Keluarga merkumpul dengan penuh emosi menyaksikan saat-saat terakhir persidangan di pusat peringatan di Potocari, dekat Srebrenica, Bosnia.

Muslim Bosnia yang kehilangan keluarga  tercinta mereka dalam pembantaian di Srebrenica mengatakan bahwa hukuman tidak cukup bagi Ratko Mladic.

Namun mereka cukup puas karena pengadilan panjang dan melelahkan itu akhirnya menjawab rasa keadilan yang mereka tuntut selama ini.

Suasana sidang Mladic juga tidak sepenuhnya lancar karena pria ini dengan sombongnya terus menceracau di persidangan.

Beberapa kali hakim Alphons Orie yang memimpin sidang dan petugas persidangan berusaha menenangkan pria yang selama beberapa tahun dilindungi oleh Serbia dan hidup tenang di Beograd.

Ratko Mladic santai di pengadilan
Halaman
1234
Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help