Istri dan Anak Tengku Mukhtaruddin Ingin Jadi Penjamin Penangguhan Penahanan, Ini Jawaban Hakim

Seperti diketahui, Tengku Muhtarudin menjadi terdakwa dalam kasus tindak pidana korupsi dan gratifikasi dari Bank Syariah Mandiri (BSM).

Istri dan Anak Tengku Mukhtaruddin Ingin Jadi Penjamin Penangguhan Penahanan, Ini Jawaban Hakim
Tengku Mukhtaruddin didampingi istrinya, Yeni Fitria, mengikuti persidangan di PN Tanjungpinang, menggunakan kursi roda, Senin (27/11/2017). 

TRIBUNBATAM. Id.TANJUNGPINANG- Yeni Fatra, istri terdakwa Mantan Bupati Anambas Tengku Mukhtarudin memberikan keterangan pada persidangan suaminya, di Pengadilan Negeri Tipikor Tanjungpinang Pinang, Senin (27/11/2017).

Seperti diketahui, Tengku Muhtarudin menjadi terdakwa dalam kasus tindak pidana korupsi dan gratifikasi dari Bank Syariah Mandiri (BSM).

‎Yeni dihadirkan di persidangan sebagai penjamin permintaan penangguhan penahanan suaminya.

Sementara, Tengku Mukhtaruddin sendiri terlihat hadir di persidangan menggunakan kursi roda.

Selain istri terdakwa, juga dihadirkan dua anaknya, Rahmat Murdani dan Khairani untuk memberikan keterangan kesanggupan menjadi penjamin.

"Suami saya masih menjalani perawatan yang membutuhkan penanganan dokter. Kesehariannya selalu di Pekabaru untuk berobat. Dan sampai sini kita tinggal di rumah. Seminggu sekali kita pasti berobat ke sana," kata Yeni..

Mendengar keterangan tersebut, ketua Majelis Hakim ‎meminta surat penangguhan diserahkan melalui Penasehat Hukum (PH) Tatang Suprayoga dan beberapa surat keterangan medis.

"Kkami sampai memantau kesehatan terdak‎wa‎ tentunya kami melihat banyak faktor. Majelis hakim belum menggunakan haknya untuk melakukan penahanan,"ujar hakim Santonius‎.

"Kita minta kepada istrinya dan anaknya selaku penjamin harus siap menghadirkan terdakwa. Agar nanti tidak ada lagi masyarakat di luar pengadilan ini mempertanyakan," katanya lagi.

Pihaknya meminta kepada penjamin untuk memastikan dan memberikan penyataan kesanggupannya itu demi kelancaran persidangan.

Para penjamin pun menyanggupi permintaan hakim. Namun hakim masih pikir-pikir untuk membuat surat jaminan penangguhan penahanan.

‎Dalam kasus korupsi dan gratifikasi ini, bermodus penyertaan penyimpanan dana APBD di BSM.

Dari penyimpanan anggaran APBD tersebut, terdakwa diduga mendapatkan gratifikasi berupa 2 unit mobil Fortuner dan Avanza serta 25 unit motor Honda Megapro.

Namun, barang hasil pemberian yang mestinya menjadi aset negara itu justru dijual.

Penulis: Wahib Wafa
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved