TribunBatam/

Mellennial

Pencitraan di Medsos Boleh, Asal Jangan Lupakan Hal Penting Ini

Selama berinteraksi di media sosial, biasanya orang akan menilai orang lain dari gaya berbicaranya, berpakaian maupun ciri lain.

Pencitraan di Medsos Boleh, Asal Jangan Lupakan Hal Penting Ini
TRIBUNBATAM/MONA ANDRIANI

DI era media sosial ini, banyak yang berteman dengan banyak orang tapi dia belum pernah bertemu langsung di dunia nyata. Bisa karena jaraknya yang memang jauh seperti beda kota atau memang belum ada waktu untuk kopi darat.

Nah, selama berinteraksi dengan orang di media sosial, biasanya orang akan bisa menilai orang dari gaya berbicaranya, gaya berpakaian maupun ciri khas lain.

Karenanya nggak heran kalau tak sedikit orang yang akhirnya berusaha tampil sempurna saat berada eksis di media sosial.

Bahkan, ada juga yang kondisinya beda antara di dunia maya dengan di dunia nyata. Nah, kondisi ini kerap disebut sebagai pencitraan.

Lantas, wajar nggak sih seseorang melakukan pencitraan lewat media sosial?

"Pencitraan di media sosial sebenarnya tak ada masalah asalkan positif. Malahan itu adalah proses belajar untuk menjadi lebih baik. Misalnya suka share kata-kata mutiara, terus dari sana lama kelamaan ia juga akan belajar untuk menjadi seperti kata-kata bijak yang dia share," kata Dinuriza Lauzi MPsi, Psikolog pratisi dan psikolog LPSK kepada Tribun Batam yang dihubungi melalui telepon, Jumat (5/1).

Jika pencitraan positif secara personal yang dilakukan dengan membagikan ke medsos maka bisa termasuk personal branding. Niza, sapaan akrab Dinuriza mengatakan, personal branding tanpa adanya kebohongan publik juga tidak masalah.

"Orang akan disebut pencitraan ketika kita mengenal personal dia. Tetapi bagi orang yang tak mengenal orang tersebut, maka efek positif akan diterimanya dari netizen," ujar Dinuriza.

Media sosial merupakan area open publik. Lewat medsos orang bisa nge-like, hingga comment apapun di media sosial kita. Jika pencitraan positif tanpa melakukan kebohongan publik, maka netizen akan mendapatkan hal positif dari postingan tersebut.

Sebaliknya, jika pencitraan positif diwarnai kebohongan publik, maka hal buruk akan terjadi pada orang yang menggunggah posting tersebut.

Ada baiknya Mellennials tidak terlalu fokus dengan diri sendiri saat share apapun di medsos. Kamu bisa mulai dengan postingan yang lebih umum.

Misalnya sharing tentang tempat wisata di Batam. Maka dari hal tersebut, akan ada sumber inspirasi yang didapat oleh netizen.

"Antara personal branding atau pamer itu memiliki perbedaan yang tipis. Pencitraan untuk personal branding biasanya hal-hal positif darinya di share ke orang lain. Bisa juga dari prestasi. Tapi kalau menurut kita itu pamer karena kita mengenal secara personal orang tersebut," ujar Dinuriza. (*)

TIPS Melakukan Pencitraan Positif
1. Usahakan untuk tidak melakukan pembohongan publik hanya karena ini mendapatkan like atau comment yang banyak.
2. Cari tagline diri yang positif, agar perilaku nyata dan di media sosial tetap sama
3. Saring informasi yang dibagikan. Untuk membentuk citra diri yang positif, maka saring informasi yang ingin dibagikan ke orang lain. Karena tidak semua orang bisa mengerti maksud dan tujuan kita
4. Kenali diri sendiri dan konsisten dalam melakukannya. (*)

Penulis: andriani
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help