Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan di Batam Tembus Rp 115 M! Begini Curhat Pejabat BPJS Batam!

Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan di Batam Tembus Rp 115 M! Begini Curhat Pejabat BPJS Batam!

Tunggakan Iuran BPJS Kesehatan di Batam Tembus Rp 115 M! Begini Curhat Pejabat BPJS Batam!
kontan
Ilustrasi Pelayanan BPJS Kesehatan 

TRIBUNBATAM.id, BATAM-Sebanyak 130.447 jiwa peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kartu Indonesia Sehat (KIS) Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Batam menunggak iuran BPJS Kesehatan. Nilai tunggakannyapun fantastis. Total sebesar Rp 115.842.341.000.

"Untuk Batam yang menunggak sebanyak 108.003 jiwa. Nilai tunggakannya Rp 95.826.700. Kalau Karimun yang menunggak sebanyak 22.444 jiwa. Nilai tunggakannya Rp 20.015.641.000," kata Kepala Bidang SDM dan Komunikasi Publik BPJS Kesehatan Cabang Batam, Irfan Rachmadi, Senin (8/1) di kantornya.

Tunggakan itu mulai terhitung sejak program JKN KIS diberlakukan pada awal 2014 hingga saat ini. Sementara total keseluruhan peserta JKN dari BPJS Kesehatan Cabang Batam hingga Desember 2017 lalu, yakni sebanyak 1.016.190. Terdiri dari 888.539 jiwa untuk Batam, dan 127.651 jiwa untuk peserta dari Karimun.

Irfan tak memungkiri, penunggakan itu terjadi lantaran kebanyakan peserta hanya membayar iuran BPJS di kala membutuhkan perawatan di rumah sakit atau balai kesehatan lainnya. Sementara di saat tidak sakit, mereka terkesan enggan membayar iuran.

"Terhadap tunggakan iuran ini, tetap kami mintakan untuk dibayar. Ada kader dari JKN yang akan turun ke rumah-rumah peserta untuk memungutnya," ujarnya.

Bagaimana dengan peserta yang menunggak iuran BPJS, namun sudah meninggal dunia? Irfan mengatakan, jika dari hasil verifikasi ternyata ditemukan ada peserta yang sudah meninggal dunia, maka tunggakan iurannya akan dihapuskan.

"Kalau peserta pindah keluar daerah lain, itu bukan menjadi kewenangan kami lagi. Tapi tetap ditagihkan," kata Irfan.

Maka dari itu, Irfan mengimbau agar peserta BPJS rutin membayar iurannya setiap bulan. Iuran yang dibayarkan itu, meski tidak digunakan langsung bagi peserta yang bersangkutan, namun dapat menolong peserta lainnya yang membutuhkan.

"Karena prinsip BPJS inikan gotong-royong. Kalau sendirian bayar biaya rumah sakit, apalagi untuk rawat inap, mana kuat. Biayanya besar," ujarnya.

Irfan memberi contoh, dengan satu orang membayar iuran BPJS untuk kelas 3 senilai Rp 25.500 per bulan saja, itu sudah bisa untuk menanggung biaya operasi jantung, pasang ring dan lainnya. Padahal biayanya jauh lebih mahal daripada yang dibayarkan peserta.

"Untuk operasi jantung sampai Rp 450 juta. Kami harus cari 17.642 orang untuk menutup biaya satu orang yang dioperasi jantung ini," kata Irfan.

Lagipula, lanjutnya, jika peserta baru membayar iuran BPJS di saat sakit, peserta tersebut akan dikenakan denda pelayanan. Denda ini diperuntukkan bagi peserta rawat inap yang menunggak iuran. Besarannya 2,5 persen dari total biaya rawat inap.

"Makanya kami imbau masyarakat supaya rutin bayar iuran. Karena rawat inap ini besar biayanya. Ada denda pelayanan bagi peserta JKN KIS yang dapat jaminan rawat inap di rumah sakit, tapi dia menunggak bayar iuran," ujarnya. (*)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved