MENYUSURI Hutan Aokigahara, Tempat Paling Popular untuk Bunuh Diri di Jepang

Jumlah korban bunuh diri di hutan tersebut tidak dipublikasikan agar tempat itu tidak semakin populer.

MENYUSURI Hutan Aokigahara, Tempat Paling Popular untuk Bunuh Diri di Jepang
Foto: Gramercy Pictures
Film "The Forest" (2016) memperlihatkan plang imbauan tidak bunuh diri di Hutan Aokigahara. 

TRIBUNBATAM.ID- Hutan Aokigahara di Jepang menjadi perbincangan setelah seorang warga Amerika Serikat yang populer di Youtube, Logan Paul, mendapat cacian dan kecaman terkait video jasad korban bunuh diri di hutan tersebut.

Hutan itu memang terkenal di Jepang sebagai lokasi bunuh diri.

Jumlah korban bunuh diri di hutan tersebut tidak dipublikasikan agar tempat itu tidak semakin populer.

Baca: YouTuber Kondang Ini Unggah Korban Bunuh Diri dan Viral. Setelahnya, Ia Lakukan Hal Gentleman Ini

Secara keseluruhan, jumlah korban bunuh diri di Jepang cukup tinggi. Bahkan, Jepang termasuk 10 negara dengan rata-rata bunuh diri tertinggi di dunia.

Berdasarkan catatan resmi, terdapat 21.897 orang yang meninggal dunia akibat bunuh diri di Jepang pada 2016. Angka itu termasuk yang paling rendah selama 20 tahun terakhir.


Dengan pepohonan lebat dan hampir tidak ada binatang liar, Aokigahara merupakan tempat sunyi dan mencekam. Foto: Julian Colton

Hutan Aokigahara terletak di bagian barat laut Gunung Fuji, sekitar 100 kilometer sebelah barat Tokyo.

Dengan luas 30 kilometer per segi, hutan tersebut cukup subur akibat curahan lahar yang berasal dari Gunung Fuji ketika gunung tersebut meletus tahun 864.

Aokigahara kerap disangkutpautkan dengan kematian karena kawasan itu diyakini pernah digunakan untuk melakoni ubasute—ritual untuk mengasingkan manula ketika masa kelaparan dan musim kering melanda.

Sebagian orang Jepang bahkan masih percaya bahwa ada arwah-arwah yang bergentayangan di hutan itu.

Namun, popularitas Aokigahara sebagai lokasi bunuh diri baru meningkat beberapa tahun terakhir.

Sebabnya? Beberapa pejabat pemerintah Jepang menduga hal itu dipicu oleh kemunculan Tower of Waves, novel karya Seicho Matsumoto terbitan 1961 berisi aksi bunuh diri sepasang kekasih di Hutan Aokigahara.

Buku lain, The Complete Manual of Suicide (1993) karya Wataru Tsurumi, menggambarkan Aokigahara sebagai "tempat sempurna untuk meninggal dunia".

Buku itu terjual jutaan eksemplar.

Wataru Tsurumi, menggambarkan Aokigahara sebagai "tempat sempurna untuk meninggal dunia" dalam bukunya. Foto: GETTY IMAGES

Hutan Aokigahara juga memikat Hollywood. Ada setidaknya dua film yang terinspirasi oleh reputasi Aokigahara, yakni Sea of Trees (2015), yang dibintangi Mathhew McConaughey, dan film horor The Forest yang dirilis 2016 lalu.

Ada pula sejumlah acara televisi yang membahas Aokigahara di sejumlah negara.

Kesunyian Mencekam

Film "The Forest" (2016) memperlihatkan plang imbauan tidak bunuh diri di Hutan Aokigahara. (Foto: Gramercy Pictures)

Dengan pepohonan lebat dan hampir tidak ada binatang liar, Aokigahara merupakan tempat sunyi dan mencekam yang dipenuhi bebatuan dengan formasi janggal.

Di beberapa tempat ada penanda dan peringatan berisi informasi konseling anti-bunuh diri.

Sejumlah penanda bahkan berisi imbauan kepada pengunjung untuk "merenungkan anugerah kehidupan sekaligus rasa sakit yang Anda timbulkan untuk keluarga Anda".

Untuk mencegah potensi bunuh diri, pemerintah Jepang mengerahkan petugas patroli dan memasang kamera pengawas.

Pemilik toko-toko di sekitar hutan juga bersedia sebagai relawan untuk mencegah bunuh diri.

Pemilik sebuah kedai kopi di pintu masuk hutan, misalnya, mengklaim kepada surat kabar Japan Times bahwa dia telah menggagalkan 160 aksi bunuh diri selama 30 tahun dengan mengamati pengunjung yang datang sendirian.

Sejumlah pakar mengamini bahwa kesendirian merupakan penyebab depresi dan bunuh diri di kalangan orang dewasa dan manula. Meski demikian, faktor stres dan keuangan juga menjadi pemicu bunuh diri di antara kaum muda.

Jumlah korban bunuh diri di hHutan Aokigahara tidak dipublikasikan agar tempat itu tidak semakin populer. Foto: ISTOCK

Kepolisian Jepang menunjukkan data bahwa pada 2010, 57 persen dari semua korban bunuh diri melakukan aksi mereka setelah pulang kantor.

Khusus di Jepang, faktor pemicu lainnya adalah tradisi bunuh diri demi martabat dan kehormatan.

Lagipula, tiada budaya kecaman terhadap bunuh diri di negara tersebut.

Logan Paul, warga AS yang populer di Youtube, telah memicu perdebatan dengan menggunggah jasad korban bunuh diri.

Lihat videonya di sini!

Cacian mengalir dan dia telah meminta maaf sekaligus menghapus video tersebut.

Akan tetapi, pembahasan soal bunuh diri terus berlanjut.

Berdasarkan catatan resmi, terdapat 21.897 orang yang meninggal dunia akibat bunuh diri di Jepang pada 2016.

Angka itu termasuk yang paling rendah selama 20 tahun terakhir. (*)

Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help