Ratusan Ribu Pria China Jadi Korban 'Wanita Palsu', Begini Modus Mereka Menguras Dompet

Jangan mudah percaya dengan gadis cantik yang merayu di situs kencan, kecuali jika tak ingin isi kantong Anda ludes.

Ratusan Ribu Pria China Jadi Korban 'Wanita Palsu', Begini Modus Mereka Menguras Dompet
gdga.gov.cn
Seorang polisi memperlihatkan salah satu situs kencan yang bertujuan untuk menipu 

TRIBUNBATAM.ID, GUANGDONG - Jangan mudah percaya dengan gadis cantik yang merayu di situs kencan, kecuali jika tak ingin isi kantong Anda ludes.

Itulah kira-kira kesimpulan kepolisian Guangdong setelah menggelar razia besar-besaran situs kencan di China.

Razia ini dilakukan setelah banyak pria di negara itu berkencan dengan wanita seksi muda melalui ponsel cerdas mereka, tapi semuanya ternyata palsu.

Hasilnya, polisi menutup aplikasi mobile yang terhubung dengan 21 perusahaan, menahan lebih dari 600 tersangka dan menyita lebih dari 400 server di 13 provinsi di seluruh negara tersebut.

Perusahaan-perusahaan ini diyakini melakukan berbagai penipuan terhadap ratusan ribu pria, kata polisi Guangdong dalam sebuah pernyataan resmi, Senin (8/8/2018), seperti dilansir AsiaOne.

Investigasi polisi mengungkapkan bahwa aplikasi kencan diprogram untuk menipu pengguna dengan membuat pesan dari wanita secara otomatis.

Ada perusahaan telah membuat akun "gadis seksi" palsu untuk menargetkan pengguna yang baru terdaftar.

Polisi menemukan bahwa wanita penggoda ini ternyata terhubung dengan perusahaan ritel agar korban membelanjakan uangnya.

"Wanita" ini berusaha merayu pasangan kencannya untuk membeli barang di sebuah aplikasi belanja online.

Banyak pria terpengaruh untuk membeli barang yang diinginkan tersebut agar terlihat lebih ganteng atau berkelas di mata wanita kencannya.

Modus penipuan lainnya adalah ketika pengguna terpikat untuk mendownload aplikasi mobile yang mengandung konten seksual.

Namun, setelah mendownload aplikjasi berbayar tersebut, ternyata mereka tak menemukan video tersebut.

Ratusan ribu orang menjadi korban penipuan dengan jumlah kerugian yang tak main-main, mencapai 1 miliar yuan atau sekitar Rp 2 triliun lebih.

China menjadikannya sebagai salah satu pelopor pengembangan kecerdasan teknologi, namun dampaknya menunjukkan sebuah fenomena yang tidak beres.

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help