KEKURANGAN 4.500 Tentara, Inggris Rilis Iklan Berisi Prajurit Muslim Sholat dan Dijaga Rekannya

Film ini diyakini sebagai video iklan pertama militer yang menampilkan tentara Muslim sholat, dan merupakan bagian dari toleransi.

KEKURANGAN 4.500 Tentara, Inggris Rilis Iklan Berisi Prajurit Muslim Sholat dan Dijaga Rekannya
EPA via BBC Indonesia
Tentara Inggris dalam latihan bersama tentara India pertengahan Desember lalu. 

TRIBUNBATAM.ID- Militer Inggris tak mengindahkan kritikan terkait kampanye perekrutan dengan mengeluarkan iklan TV.

Militer tetap menayangkan iklan yang menunjukkan seorang tentara Muslim sholat pada saat bertugas dan dijaga rekan-rekannya.

Iklan berjudul Keeping My Faith (Melakukan keyakinan saya) menunjukkan seorang tentara yang tengah berpatroli di daerah pegunungan melepaskan sepatu, helm, mengambil wudhu dan salat, sementara rekan-rekannya berjaga-jaga.

Kata-kata Keeping My Faith dan "This Is Belonging" (Inilah Perasaan Saling Memiliki) muncul di layar di tengah suara tembakan di kejauhan.

Film ini diyakini sebagai video iklan pertama militer yang menampilkan tentara Muslim sholat, dan merupakan bagian dari rangkaian iklan yang dikeluarkan untuk merekrut lebih banyak lagi tentara Inggris dari kekurangan sekitar 4500 personel.

Iklan baru ini muncul dengan penekanan pada toleransi dan inklusif semua golongan dan bukannya iklan yang biasanya menampilkan pahlawan, petualangan dan perangkat keras militer.

Lima iklan animasi yang diunggah di YouTube pekan lalu memicu kritikan dari sejumlah pensiunan tentara yang menyebutkan iklan itu membuat tentara terlihat "lemah".

Iklan lain berisi pertanyaan termasuk "Apakah gay bisa masuk tentara?" dan "Bagaimana bila saya menjadi emosional saat menjadi tentara?"

Wartawan BBC untuk masalah pertahanan, Jonathan Beale, mengatakan iklan ini dimaksudkan untuk menjawab berbagai pertanyaan itu, termasuk dari mereka yang ingin menjalankan ibadah agamanya.

Richard Kemp, seorang pensiunan kolonel mengatakan kepada jaringan berita Forces Network, kampanye itu tidak memperhatikan "kelompok utama orang yang tertarik bergabung (dengan militer)."

Halaman
12
Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help