Anambas Masih Andalkan Listrik APBD! Kenapa Tidak Listrik PLN? Miris Jawabannya!

Masyarakat pulau masih mengandalkan mesin pembangkit listrik dari anggaran desa maupun APBD dengan waktu menyala terbatas

Anambas Masih Andalkan Listrik APBD! Kenapa Tidak Listrik PLN? Miris Jawabannya!
Tribunbatam/Septyan Mulia Rohman
Warga Desa Air Putih Kecamatan Siantan Timur yang mengerjakan kapal pompong. Masih mengandalkan listrik desa, masih ada desa di Anambas yang belum tersentuh listrik 24 jam. Foto diambil beberapa waktu lalu. 

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS-‎Kebutuhan listrik bagi masyarakat pulau, jauh dari kata merdeka. Belum tersentuh jaringan listrik, layaknya kabupaten/kota lain, masyarakat pulau pun masih mengandalkan mesin pembangkit listrik yang bersumber dari anggaran desa maupun APBD kabupaten, dengan waktu menyala yang terbatas.

‎"Untuk di Siantan Tengah, belum semua desa yang teraliri listrik PLN. Seperti Desa Lidi, Liuk dan Desa Air Asuk masih menggunakan listrik desa melalui Dinas ESDM sekitar tahun 2012 kemarin. Total ada dua mesin pembangkit, masing-masing berkapasitas 125 Kwp," ujar Camat Siantan Tengah, Herry Fakhrizal Kamis (1/2/2018).

Baca: Banyak Pengacara Hartanya Miliaran! Berapa Sebenarnya Pendapatan Pengacara di Indonesia?

Baca: Terungkap! Selain Suku Jawa, 3 Negara Ini Pakai Bahasa Jawa Bahasa Sehari-hari! Nomor 1-2 Keren!

Baca: Terungkap! Banyak Anggota Tjakrabirawa Kabur ke Thailand Jadi Biksu-Petani! Mengejutkan Alasannya!

Baca: Inilah Kisah Cinta Soeharto di Masa Muda! Terungkap Beginilah Caranya Menaksir Ibu Tien!

Baca: Terbongkar! Inilah Dipo Latief, Pria Kaya Raya Bikin Nikita Mirzani Bertekuk Lutut! Siapa Bapaknya?

Hadirnya mesin pembangkit itu pun, diakuinya cukup untuk melayani kebutuhan listrik di tiga desa selama 14 jam per harinya. Listrik hingga 24 jam, baru dapat dinikmati apabila ada keadaan mendesak, seperti orang meninggal, warga yang tengah sakit, hingga ada acara pesta.

"Listrik 14 jam per hari itu, mulai dari pukul lima sore hingga pukul tujuh pagi. Sejauh ini, masyarakat tidak ada mengeluh. Masyarakat baru mengeluh, kalau listrik betul-betul tak ada. Namun, harapan ke depan tentu 24 jam," ungkapnya.

Penggunaan listrik desa ini pun, cenderung memakan operasional yang berat. Biaya yang dibebankan kepada warga pun beragam, mulai dari dua ratus ribu Rupiah hingga jutaan Rupiah dibebankan kepada warga tergantung dari pemakaian listrik tersebut. Herry pun menyambut baik rencana intekoneksi jaringan listrik dari Desa Payaklaman Kecamatan Palmatak ke Desa Air Asuk Kecamatan Siantan Tengah.

"Kami mengapresiasi adanya rencana intekoneksi itu. Ini merupakan proyek PLN pusat. Bila tidak ada halangan, tanggal 16 Februari, tim PLN pusat akan meninjau ke Anambas untuk mengecek koordinat dan mengukur jaringan," bebernya.

Saat ini, ‎baru tiga desa di Kecamatan Siantan tengah yakni Desa Teluk Sunting, Desa Teluk Siantan, serta Desa Air Sena yang perlahan mulai tersentuh listrik PLN. Untuk jaringan di Desa Teluk Sunting, diakuinya sudah terpasang sejak tahun 2017 kemarin. Sementara, di Desa Teluk Siantan dan Desa Air Sena mulai dilakukan pemasangan jaringan setelah adanya pembersihan lahan.

"‎Beberapa desa, ada yang sudah terpasang sejak 2017, ada juga yang baru mulai pemasangan jaringan," ungkapnya. Tidak hanya di Kecamatan Siantan Tengah, belum meratanya listrik 24 jam, juga dialami oleh warga di Kecamatan Siantan Timur.

Di Desa Air Putih misalnya. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, petani dan pembuat kapal pompong ini, sudah terbiasa dengan nyala listrik yang bersumber dari mesin pembangkit listrik yang dimiliki secara pribadi, maupun bersumber dari anggaran desa.

"Baru menyala sore sampai malam pukul sebelas, Bang. Kalau saya, pas mau pakai listrik, tinggal nyalakan ‎mesin saja. Paling agak boros di bahan bakar saja," ujar Iyan salahseorang warga. (*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved