Motion

Komunitas Pembudidaya Pala Anambas Ingin Produksi Sirup dan Minyak Atsiri

Taspinardi, seorang petani pala yang juga anggota komunitas mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar untuk membeli bibit Pala ini.

Komunitas Pembudidaya Pala Anambas Ingin Produksi Sirup dan Minyak Atsiri
ISTIMEWA

Hal ini dikarenakan banyaknya varietas yang berbeda-beda, sehingga mempengaruhi pada kualitas mutu. Indonesia pun, saat ini belum mengatur regulasi untuk mengeskpor pala untuk bahan mentah, bahan setengah jadi, hingga bahan jadi.

"Kalau di dunia, produsen pala terkenal dari Granada itu hanya satu macam, dan itu pala banda. Dari penelusuran kami tadi, kami melihat hanya satu macam, sehingga Homogen. Itu keuntungan sebenarnya. Adapun mengenai pohon indukan yang dipilih sebanyak 20 pohon. Meskipun, banyak pohon lain yang bagus," bebernya.

Tanaman pala pun, diakuinya dapat menjadi sumber penghasilan masyarakat secara terus menerus. Produksi buah yang tidak mengenal musim, ditambah dengan sejumlah komponen mulai dari kulit, daging, hingga biji yang memiliki nilai ekonomis tinggi, menjadi potensi yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi kerakyatan masyarakat ke depan. (*)

Pesan Ketel Khusus Penyuling Minyak dari Jawa

USAHA yang dirintis komunitas budidaya Pala di Desa Tiangau Kecamatan Siantan Selatan terus dikembangkan. Tak ingin setengah-setengah, serta mengurangi ketergantungan pada daerah lain, komunitas pembudidaya ini pun sepakat untuk membeli ketel khusus untuk menyuling bagian tanaman Pala menjadi aneka produk seperti minyak atsiri.

Ketel khusus tersebut dipesan langsung dari Jawa dan saat ini sedang dalam proses pengiriman. "Alhamdulillah, sudah pesan ketel khusus untuk proses penyulingan. Bila tidak ada halangan, awal Februari ini ketel tiba di Anambas," ujar Jonggarman, pembudidaya tanaman Pala kepada Tribun.

Ketel yang dipesan ini pun, sanggup untuk mengolah bagian dari tanaman Pala menjadi minyak dengan kapasitas 500 hingga 800 kilogram sekali naik. Dengan pemesanan ketel ini, rencana program jangka menengah untuk membentuk komunitas menjadi industri kecil menengah perlahan mulai terealisasi.

"Insya Allah bila tidak ada halangan, pertengahan Februari sudah bisa dipasang di Tiangau," ungkapnya.
Danramil 02/ Tarempa Kodim 0318/Natuna, pembina sekaligus pemerhati budidaya tanaman Pala Kapten Inf Syamsuwarno mengatakan, meski skala untuk menyuling tanaman Pala terbilang besar dengan menggunakan ketel yang telah dipesan, namun pihaknya tak ingin terburu-buru untuk mengolah tanaman Pala ini untuk disuling menjadi minyak.

Selain ingin mencari kualitas yang terbaik, pihaknya ingin pola serta kebiasaan masyarakat untuk membudidayakan tanaman Pala, termasuk tanaman yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat menjadi prioritas utamanya.

"Kami memprediksi, tanaman Pala yang ada ini baru benar-benar produktif antara lima hingga enam tahun. Untuk sekarang memang sudah bisa, meski belum bisa dilakukan secara masif," ungkapnya.

Halaman
1234
Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved