Reuters Beberkan Fakta Jurnalisnya Ditahan Militer Myanmar karena Meliput Pembantaian Rohingya

Kantor berita Reuters memaparkan apa yang sebenarnya dialami oleh dua jurnalisnya yang ditahan aparat Myanmar.

Reuters Beberkan Fakta Jurnalisnya Ditahan Militer Myanmar karena Meliput Pembantaian Rohingya
AFP/Ye Aung Thu
Jurnalis Reuters, Wa Lone (tengah) dijaga polisi ketika tiba di pengadilan di Yangon, Myanmar, Rabu (10/1/2018). 

TRIBUNBATAM.ID, NAYPYDAW - Kantor berita Reuters memaparkan apa yang sebenarnya dialami oleh dua jurnalisnya yang ditahan aparat Myanmar.

Dilansir Al Jazeera Jumat (9/2/2018), Reuters menyatakan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo ditahan karena meliput pembantaian terhadapRohingya.

Pemimpin Redaksi Reuters, Stephen J Adler berkata, sebelumnya fokus utama mereka adalah memastikan keselamatan Lone dan Oo.

Setelah mendengar kondisi terkini, Adler menjelaskan mereka langsung memutuskan untuk mempublikasikan temuan dua reporternya.

Temuan itu adalah gambar eksekusi yang dilakukan militer Myanmar terhadap 10 orang laki-laki Rohingya di Desa Inn Dinn, 2 September 2017.

Baca: Pengungsi Mengaku Myanmar Sengaja Bikin Rakyat Rohingya Kelaparan. Kami Dilarang Bekerja

Sebanyak 10 orang itu ditembak di sebuah lapangan, sebelum kemudian jenazah mereka dimasukkan dalam kuburan massal.

Tidak hanya foto. Reuters mengatakan Lone dan Oo telah menerima keterangan pengakuan dari warga Myanmar yang ikut dalam pembantaian tersebut.

"Kami memutuskan mempublikasikannya karena hal ini sudah menjadi perhatian global," kata Adler dilansir dari BBC.

Reuters via Al Jazeera melaporkan, usia ke-10 korban Rohingya itu berkisar antara 17-45 tahun.

Halaman
123
Editor: Sri Murni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help