TribunBatam/

Pemilu Damai dan Legitimate untuk Mewujudkan Masyarakat yang Tata Tentram Kerta Raharja

Dalam sistem demokrasi yang dianut saat ini, memungkinkan seluruh masyarakat berpartisipasi dalam proses pembangunan bangsa

Pemilu Damai dan Legitimate untuk Mewujudkan Masyarakat  yang Tata Tentram Kerta Raharja
net
Kombes Pol Dr. Andry Wibowo

Tahun 2018  dinyatakan sebagai tahun politik, tahun dimana pagelaran Pilkada serentak diselenggarakan. Diikuti dengan pagelaran pemilu legislatif baik lokal maupun nasional dan Pemilu Presiden pada tahun 2019.

Masyarakat sebagai pemberi mandat atas kekuasaan politik yang melekat pada partai politik dan para calon tentunya menitipkan harapan-harapan politik (political hopes) kepada mereka. Kesejahteraan, keamanan, keadilan adalah harapan-harapan umum (general acceptance) dari masyarakat kepada mereka yang akan merencanakan dan melaksanakan harapan-harapan itu yang tentunya diwujudkan pada kehendak politik (political will) yang diurai pada visi, misi, dan perencanaan strategis maupun pengendalian pembangunan Indonesia 5 Tahun yang akan datang.

Kepemimpinan Bersama

Dalam sistem demokrasi yang dianut saat ini, memungkinkan seluruh masyarakat berpartisipasi dalam proses pembangunan bangsa. Distribusi kekuasaanpun dalam sistem demokrasi merupakan sesuatu yang lumrah, bahkan kekuasaan formal yang melekat pada institusi negara tidak lagi mendominasi peta kekuasaan yang terdistribusi tadi.

External control yang bersifat formal maupun yang lahir dari masyarakat memiliki ruangnya sendiri untuk bersama-sama dengan pemerintah membangun masyarakat, bangsa, dan negara menuju cita-cita yang telah ditetapkan dalam pembukaan UUD 1945. 

Kepemimpinan kolektif merupakan situasi yang harus dibangun dalam sistem demokrasi saat ini. Distribusi kekuasaan yang ada di mana-mana saat ini tidak lagi memungkinkan menghadirkan kepemimpinan dominan baik itu didasarkan kepada pendekatan personal seperti era Soekarno dan Soeharto maupun pendekatan dominasi institusional sebagaimana terjadi pada era Orde Baru yang didominasi oleh ABRI-GOLKAR. 

Sistem demokrasi yang dibangun didasarkan kepada pemberian ruang aspiratif dan partisipasi seluas-luasnya kepada seluruh warga negara menuntut adanya pemerataan kekuasaan, pemerataan tanggungjawab, dan pemerataan wewenang. Dengan sistem ini akan melahirkan suatu sistem ketatanegaraan dan sosial yang kuat jika kalau kaidah dan prinsip-prinsip demokrasi itu harus dijalankan sesuai norma yang ada di Indonesia. Karena rantai perencanaan, rantai pelaksanaan, dan rantai kendali pembangunan ada di semua lini dan sendi pemerintahan dan sosial kemasyarakatan. Kepemimpinan yang hebat dalam sistem demokrasi adalah kepemimpinan yang mampu mensinergikan potensi bangsa sebagai kekuatan yang satu menuju Indonesia yang maju dan bermartabat.

Mewujudkan Masyarakat Tata Tentram Kerta Raharja

Pemilu dan sistem demokrasi yang dianut inipun tidak terlepas dari potensi-potensi konflik. Masyarakat yang secara alamiah terfragmentasi dalam perbedaan suku, agama, ras, dan golongan, akhirnya juga harus terfragmentasi pada afiliasi politiknya. 

Perbedaan pada satu persoalan saja terkadang jika tidak mampu kita mengelolanya maka akan menimbulkan masalah, maka dari itu perbedaan-perbedaan yang alamiah dan perbedaan yang lahir dari pilihan politik akan juga memberi kontribusi potensi konflik yang lebih luas. Untuk itulah tahapan pemilu sampai dengan tahapan Pemilu Presiden pada tahun 2019 yang akan datang harus dapat dijalankan oleh kita semua dengan menjaga kedamaian-keamanan dan legitimasi pemilu yang kuat.

Kedamaian dalam interprestasi saya adalah adanya integrasi sosial yang kuat dalam konsepsi dan kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus menjadi komitmen bersama dari seluruh partisipan politik baik individu, kelompok, maupun organisasi. Kontestasi pemilu yang berlangsung dengan model dan cara kampanye hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang tepat dan memiliki edukasi kepada masyarakat. Ciri-ciri dan model kampanye yang provokatif baik verbal, visual, dan fisik harus dihindari. 

Begitupun ketika hasil pemilu kelak melahirkan pemimpin-pemimpin baru hendaknya rakyat atau masyarakat tidak dijadikan alat untuk berkonflik baik kepada masyarakat lain atau kepada negara hanya untuk memuaskan kepentingan individu atau kelompok. Demikian pula keamanan yang menjadi prasyarat utama dalam terselenggaranya pemilu yang mendapat legitimasi kuat wajib kita wujudkan bersama. 

Perasaan intimidatif dan koruptif yang dijadikan alat untuk mengendalikan masyarakat pada pilihan-pilihan tertentu harus kita jauhi. Masyarakat harus bebas dari rasa ketakutan apapun, masyarakat harus merasa aman pada pilihan-pilihannya. Sehingga pemimpin terpilih kelak merupakan wujud doa dan representasi harapan masyarakat Indonesia yang terbaik di antara yang baik.

Demikian pula dengan Legitimasi Pemilu, jika kalau indikator damai dan aman dapat terwujud. Maka kiranya kita akan mendapatkan suatu proses pemilu yang legitimate sebagaimana prinsip dan azas-azas pemilu yang kita kenal selama ini yaitu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Tentunya pada akhirnya kita semua memiliki tanggung jawab yang besar karena setiap kita telah diberikan ruang kekuasaan untuk berpartisipasi dalam pembangunan bangsa melalui pemilu dalam sistem demokrasi yang sepatutnya kita juga bersama-sama bertanggung jawab terhadap proses dan hasilnya untuk mewujudkan Indonesia yang Tata Tentram Kerta Raharja.

*)Kombes Pol Dr. Andry Wibowo, SIK, MH, MSi, adalah Perwira menengah di Bareskrim Mabes Polri

Editor: Rio Batubara
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help