WANITA Cantik Peraih 12 Beasiswa Ini Berbagi 4 Tips Jitu Lulus Beasiswa dan Kuliah di Luar Negeri

Abelia Anggi Wardani masih berusia 29 tahun pada akhir tahun 2018 ini tapi prestasinya di dunia pendidikan luar biasa.

WANITA Cantik Peraih 12 Beasiswa Ini Berbagi 4 Tips Jitu Lulus Beasiswa dan Kuliah di Luar Negeri
Dokumen Abelia
Abel kini sedang mengenyam pendidikan S3 di Tilburg University, Belanda. 

3. Kemampuan berbahasa Inggris

Latihan bahasa Untuk kemampuan berbahasa Inggris, Abel mengatakan, penguatan bahasa tidak boleh berhenti hanya untuk tujuan lulus IELTS ataupun TOEFL.

Pasalnya, menurut dia, ketika akhirnya sudah berhasil mendapatkan beasiswa dan menginjakkan kaki ke kampus impian, seseorang akan dihadapkan pada kenyataan bahwa kemampuan untuk berbicara bahasa asing adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi.

Ketika perkuliahan sudah mulai, para pelajar akan diminta menulis banyak makalah, esai, berdiskusi kelompok dengan teman-teman dari berbagai macam latar belakang, ujian, dan menulis tesis ataupun disertasi.

"Jadi, latih kemampuan berbahasa asing dari sedini mungkin, persisten dalam belajar, meskipun hanya sepuluh menit sehari. Coba biasakan untuk membaca, berbicara, dan menulis dalam bahasa tersebut, karena kunci belajar bahasa adalah latihan yang terus menerus," tuturnya.

Setelah menulis buku berjudul "Meraih Mimpi dengan Beasiswa pada 2016" yang berisi tentang perjuangan mendapatkan beasiswa hingga bagaimana meraih gelar cumlaude, Abel beberapa kali diundang untuk mengisi acara-acara mahasiswa.

4. Jangan malas cari informasi

Setelah banyak menghadiri acara-acara dan seminar tentang cara mendapatkan beasiswa, Abel menerima banyak pertanyaan yang diutarakan kepadanya.

Menurut dia, banyak dari pertanyaan tersebut yang memang ditanyakan setelah melalui pencarian dan proses berpikir yang lama, tetapi banyak pula yang terlihat masih malas mencari informasi-informasi dasar sebelum bertanya.

Dari situ Abel melihat bahwa meskipun sekarang generasi muda ini memiliki akses luas terhadap informasi dan teknologi, tetapi masih banyak yang belum memaksimalkan hal tersebut untuk menunjang upaya-upaya pengembangan diri.

"Dan dari pengalaman mengajar, saya melihat bahwa mahasiswa-mahasiswi zaman now masih sangat kurang dalam hal keingintahuan mereka. Sering saya menekankan pada mereka untuk menjawab dulu ‘kenapa’ suatu kejadian, fenomena itu terjadi, jangan hanya berhenti pada apa, di mana, dan bagaimana hal tersebut terjadi," ungkapnya.

Baca: VIDEO: Romantisnya Prajurit TNI Ini Bikin Baper, Lamar Kekasihnya di Depan Umum Usai Terjun Payung

Baca: Batu di Tebing Jalan Ini Bikin Warga Siantan Waswas, Khawatir Jatuh Saat Melintas

Pernah gagal

Meski ada 12 beasiswa yang pernah menerimanya, Abel juga pernah tidak lolos.

Ketika Abel menempuh program S-2 di Belanda, dia sempat mendaftar Beasiswa Unggulan dari Kemendiknas, namun dinyatakan tidak lulus.

Pasalnya, ketika S-1 di Prancis, dia sudah pernah mendapatkan Beasiswa Unggulan.

Berita ketidaklulusannya baru diketahui ketika Abel sudah sampai di Belanda dan sudah memulai proses perkuliahan.

Hal tersebut sempat membuatnya kalang kabut mencari tambahan dana.

Namun karena dia memegang prinsip tidak ada hasil yang mengkhianati usaha, Abel lalu mendapatkan beasiswa riset dari Frans Seda Foundation didukung dengan gaji ketika Abel menyambi kerja informal dan kerja magang.

"Akhirnya saya mampu menyelesaikan kuliah di S-2 saya di Belanda dengan baik dan menerima predikat cumlaude dan mendapat peringkat kedua terbaik di angkatan saya,’’ tuturnya.

Abel bercerita, dia tinggal di luar negeri pertama kali ketika berusia 22 tahun pada tahun 2011 untuk melanjutkan program double degree di jurusan Tourism Management, Faculty of Law, Economy, and Management, Université d’Angers, Perancis.

Abel masih terkenang pertama kali mendapatkan kesempatan untuk ke Perancis.

Rasanya campur aduk. Dia juga masih ingat rasanya momen magis yang haru ketika menginjakkan kaki di negara itu.

Dia menyadari bahwa mimpinya untuk kuliah di luar negeri yang sudah diimpikan dari sejak pertama masuk kuliah di UI akhirnya terwujud.

Meskipun tentunya setelah fase-fase kebahagiaan tersebut, dia pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa ke Perancis untuk berjuang belajar dan membawa pulang gelar.

Anak kedua pasangan Sutiyono dan Siti Umi Hanik tersebut kini menekuni bidang mediasi, konflik, perdamaian, keberagaman budaya, dan pendekatan budaya dalam penyelesaian konflik.

Saat menjalani kuliah S-2 di jurusan Manajemen Keberagaman Budaya untuk S2 di Tilburg University, Belanda, Abel banyak belajar mengenai pengelolaan keberagaman budaya baik di masyarakat, di institusi, dan secara individu.

Setelah lulus dari program master tersebut, Abel ditawari untuk bergabung di salah satu LSM yang berasal dari Swiss untuk menjadi konsultan.

Lembaga ini banyak mendukung program-program yang berkaitan dengan mediasi, penyelesaian konflik, serta penguatan kapasitas masyarakat di daerah-daerah rawan konflik.

"Dari situlah kemudian muncul ide untuk menulis disertasi yang berhubungan dengan pendekatan budaya sebagai model rekonsiliasi konflik di daerah-daerah rawan konflik," ungkapnya.

(kompas.com/Kontributor India, Dinda Lisna Amilia)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Abelia, Pelajar Indonesia Peraih 12 Beasiswa ke Luar Negeri Berbagi Rahasia"

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved