Historia

Terungkap! Lewat Urusan Dapur, Koki Asal Jawa Ini Selamatkan Nasib Pasukan TNI di Operasi Trikora!

Lewat sentuhan tangannya, koki asal Jawa ini selamatkan nasib pasukan tempur TNI saat operasi Trikora. Begini kisahnya!

Terungkap! Lewat Urusan Dapur, Koki Asal Jawa Ini Selamatkan Nasib Pasukan TNI di Operasi Trikora!
via intisarionline

Gubuk kecil yang nyaris ambruk diperbaiki lagi dan diberi atap seng, lalu dicat putih mengunakan cat yang dibawa dari Halong.

Puas dengan bangunan gubuk yang tegak lagi dan tampak gagah, yang kemudian digunakan sebagai kantor, para pekerja yang bergembira kemudian menamainya gedung putih (White House).

Peralatan standar, seperti balai-balai, meja dan kursi, dibuat sederhana dari bahan-bahan yang ada di sekitarnya.

Untuk kebutuhan air bersih, dialirkan air dari lereng pegunungan menggunakan pipa-pipa batang bambu.

Setelah bekerja keras dengan peralatan sederhana dan bahan-bahan yang juga sederhana, dan kondisi pangkalan Liang siap didarati Gannet, Kapten Singgih pun kembali ke Surabaya untuk mengambil Gannet yang nantinya akan diterbangkannya sendiri.

Dua pesawat Gannet yang diterbangkan ke Liang, selain dipiloti oleh Kapten Singgih juga diterbangkan rekan sejawatnya yang masih perwira remaja tapi berpengalaman, Letnan TDV Situmeang.

Setelah pesawat Gannet mendarat selamat dan berpangkalan tetap di Liang, logistik dan perlengkapan lainnya menyusul tiba diangkut kapal LST.

Hingga kondisi siap operasi untuk melaksanakan misi tempur, terdapat enam Gannet yang bersiaga di Liang.

Dalam kondisi siap tempur pada H-5, diterima berita bahwa Operasi Jayawijaya ditunda sehubungan adanya perundingan untuk menyelesaikan masalah Irian Barat di PBB, New York.

Baca: Terungkap! Inilah 8 Trik Beli Tiket Pesawat Bocoran Orang Dalam! Nomor 2 Paling Mengejutkan!

Baca: Mengejutkan Penjelasannya! Bisa Timbulkan Ledakan, Inilah yang Terjadi Saat Tubuh Dikremasi!

Baca: Heboh! Jalan Kaki Surabaya-Jakarta, Kakek Ini Bikin Polisi Sungkem di Kakinya, Tak Sangka Alasannya!

Ketika berita bahwa masalah Irian Barat bisa diselesaikan secara damai, kekuatan Gannet pun harus ditarik dari garis depan.

Sesuai dengan perkembangan situasi yang makin melunak, pesawat-pesawat Gannet pun dipindahkan lagi penempatannya ke Mapanget, Manado atau sekarang dikenal sebagai Bandara Sam Ratulangi.

Bagi Amin Singgih yang sekali lagi mendapat tugas untuk membuka pangkalan baru, ia tahu betul apa saja yang harus dilakukan.

Tantangan di Mapanget memang tidak seberat Liang, tapi tetap saja harus memanfaatkan lingkungan sekitar.

Misalnya, untuk kebutuhan air minum menggunakan air sungai yang jernih sehingga bisa dimanfaatkan juga untuk mandi.

Pasukan PGT, kini Paskhas TNI AU sebelum diangkut Pesawat Hercules saat pembebasan Irian Barat
Pasukan PGT, kini Paskhas TNI AU sebelum diangkut Pesawat Hercules saat pembebasan Irian Barat (Intisarionline/Ist)

Ketika para kru darat dan awak udara mulai menetap di Mapanget, muncul masalah baru karena baik kru darat maupun udara kebanyakan dari Jawa.

Mereka tidak bisa menyantap makanan yang dimasak koki Manado karena dirasa terlalu pedas.

Untuk mengatasi masalah itu koki Jawa pun didatangkan sehingga semua personel yang berada di Mapanget tidak lagi mengalami sakit perut dan susah makan tapi selalu dalam kondisi siap tempur.

Mereka masih memiliki tugas untuk melindungi Armada Angkatan Tugas Amfibi yang masih bersiaga di Teluk Peleng hingga Irian Barat diserahkan oleh Belanda kepada Indonesia.

Ketika Irian Barat akhirnya benar-benar kembali ke pangkuan RI, pesawat-pesawat Gannet kembali ditarik ke Liang.

Tapi ada satu pesawat Gannet yang karena alasan teknis terpaksa ditinggal di Mapanget dan satu lagi diterbangkan ke Surabaya untuk perawatan besar.

Untuk mengambil Gannet yang ditinggalkan dan telah menjalani perbaikan, dikirim satu pesawat Gannet dengan dua awak dan teknisi yang berangkat dari Liang pada 23 Agustus 1962.

Pada malam harinya dua pesawat Gannet terbang dari Mapanget menuju Liang sekaligus melaksanakan latihan terbang malam.

Tapi hanya satu pesawat Gannet, yang dipiloti Kapten Amin Singgih, yang berhasil mendarat di Liang.

operasi trikora
operasi trikora (via intisarionline)

Satu pesawat Gannet lainnya yang dipiloti Kapten A. Boediarto dan Letnan Bachtiar Jahya tak pernah mendarat di Liang dan kemudian dinyatakan hilang.

Usaha pencarian besar-besaran pun dilaksanakan. Namun hingga awak dan pesawat Skadron 100 ditarik kembali ke Pualam, Surabaya, pesawat Gannet yang mengalami nasib nahas belum ditemukan.

Sekitar satu tahun kemudian, kerangka pesawat beserta awaknya ditemukan oleh pencari damar di salah satu lereng gunung di pulau Ambon.

Evakuasi untuk mengangkat jenasah kedua awak kemudian dilakukan dan keduanya pun dimakamkan sebagai pahlawan yang gugur di medan tugas. (Intisarionline)

Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved