Ibu-ibu, Berdoalah. Racun Kalajengking Akan Menjadi Obat Kanker Payudara Tanpa Kemo

Para peneliti di Eropa dan Amerika sangat yakin bahwa racun kalajengking ini akan memberi harapan baru bagi 8 juta penderita kanker di dunia.

Ibu-ibu, Berdoalah. Racun Kalajengking Akan Menjadi Obat Kanker Payudara Tanpa Kemo
kolase

Paling menakjubkan adalah penemuan seorang peneliti muda adal Meksiko bernama Demetrio Rodríguez Fajardo.

Demetrio saat ini berusia 21 tahun dan kandidat doktoral Faskultas Kefokteran Universitas Guadalaraja, Meksiko.

Di usia 17 tahun, empat tahun lalu, Demetrio meneliti kandungan venon atau racun pada kalajengking yang paling cantik di dunia, kalajengking biru.

Baca: Ternyata, Penemu Racun Kalajengking untuk Kanker Payudara Adalah Remaja 17 Tahun

Hasilnya mengejutkan. Demetrio mengatakan, racun kalajengking bisa menyembuhkan kanker payudara.

Kendati penelitian ini menimbulkan pro dan kontra dan sempat ditolah, namun akhirnya badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat (FDA) mengizinkan temuan Demetrio tersebut untuk digunakan.

Kenapa? Karena obat itu terbukti secara klinis melumpuhkan sel-sel kanker payudara.

4. Lain Jenis, Lain Obat

Setelah Demetrio meneliti, para ilmuwan kemudian mulai ramai-ramai meneliti kalajengking lain untuk mencari tahu, apakah venon mereka juga bisa digunakan.

Lagi-lagi, muncul temuan yang mengejutkan.

Ternyata, setiap spesies kalajengking memiliki jenis racun berbeda dengan kemungkinan manfaat yang berbeda pula.

Ada venom yang dipercaya menghalangi keropos tulang, seperti rheumatoid arthritis dan osteoartritis.

Hanya saja, hingga saat ini, belum ada kesimpulan dari penelitian terkait hal ini dan spesies kalejengking yang paling manjur tentang hal itu.

Pada tahun 2011, seorang peneliti dari Universitas Maryland memodifikasi jamur parasit dari dalam venom kalajengking untuk menyerang parasit malaria yang ditemukan di dalam nyamuk.

Sebenarnya, kalajengking memiliki dua racun, yakni prevenom dan venom.

Prevenom semacam klorida atau garam jenis K+ yang sering digunakan binatang melata ini untuk mempertahankan diri dan kawin.

Sedangkan venon berupa rantai protein untuk menyerang dan melumpuhkan musuh.

Pada kalajengking ekor ganda atau Transvaal (parabuthus transvaalicus), masing-masing ujung ekornya menghasilkan prevenom dan venom yang terpisah.

Begitu juga kalajengking hitam yang memiliki racun kombinasi garam (K+) yang tinggi.

Prevenom ini juga bisa menghilangkan rasa nyeri bagi penderita kanker, bahkan diharapkan menjadi alternatif pembiusan yang baru.

5. Tumor Otak dan Gagal Jantung

 Dipanjam Pan (kiri) dan para peneliti Illinois

Di Madison, Wisconsin University, cara-cara baru racun kalajengking telah dikembangkan untuk mendapatkan obat untuk penyakit seperti gagal jantung.

Mereka mulai dengan menganalisis 15 spesies binatang arakhnida ini. Dari 15 spesies tersebut Scorpion King yang berwarna hitam legam adalah salah satu spesies yang layak untuk diujicoba.

Terakhir, Profesor Dipanjam Pan dari University of Illinois menemukan satu jenis peptida kecil yang dikenal sebagai TsAP-1.

Zat ini ditemukan dari kalajengking kuning Brasil (tityus serrulatus) yang mampu menemukan sel kanker dan mikroba dalam sel otak secara otomatis.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Chemical Communications, para ilmuwan mengklaim bahwa kapsul bulat TsAP-1 atau NanoVenin diyakini mampu membunuh sel-sel kanker payudara sepuluh kali lebih baik dibanding obat lain.

Hal yang mempercepat kemungkinan venon akan menjadi obat adalah karena keberhasilan peneliti menggunakan nanoteknologi untuk “menjebak” racun kalajengking.

Soalnya, peptida ini tidak hanya membunuh sel tumor, tetapi juga sel sehat, sehingga nanoteknologfi ini akan menjadi semacam kendaraan untuk mengantarkan peptida tersebut ke sel yang dikehendaki, yakni sel tumor.

 6. Senter untuk kanker otak

Israeli Deathstalker Scorpions

Tumor atau kanker otak adalah penyakit yang paling sulit diubati saat ini karena keberadaannya di antara jutaan sel syaraf di otak manusia.

Tetapi ada pengembangan yang menarik oleh peneliti Seattle setelah meneliti satu spesies kalajengking bernama Israeli Deathstalker Scorpions.

Peptida spesies ini berhasil mengidentifikasi sel kanker di dalam otak sehingga kemudian dijuluki “tumor cat”.

“Toksin kalajengking mencari sel kanker dan kemudian menjadi senter di dalamnya sehingga membuat sel-sel kanker itu bersinar cemerlang sehingga memudahkan tim dokter untuk mengangkatnya,” kata "Dr Jim Olson, seorang spesialis kanker otak di Rumah Sakit Anak Seattle.

7. Memulihkan penyakit misterius

Radang sendi atau artritis reumatoid atau rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun menurunnya sistem kekebalan tubuh sehingga mengakibatkan peradangan dalam waktu lama pada sendi bashkan penipisan tulang.

Terbaru dari hasil penelitian, venom kalajengking juga sudah terbukti mampu memperbaiki gejala rheumatoid arthritis tersebut.

Memang, ujicoba dari penelitian ini baru dilakukan pada tikus sesuai prosedur pengujian awal obat-obatan sebelum digunakan kepada manusia.

Namun, dari hasil penelitian menunjukkan hasil yang luar biasa.

RA dikenal sebagai penyakit "misterius" karena tidak ada yang tahu apa penyebabnya dan bagaimana cara menyembuhkannya.

Dilansir dari healthline.com, studi ini dipublikasikan dalam "Journal of Farmacology dan Experimental Therapeutics".

Penelitian dipimpin oleh Christine Beeton, PhD, seorang ahli imunologi di Baylor College of Medicine.

Para ilmuwan ini mengatakan, satu dari ratusan komponen racun kalajengking dapat mengurangi keparahan RA pada model hewan ini.

Bahkan, dalam beberapa kasus, kerusakan penyakit ini dapat dipulihkan dengan efek samping yang kecil.

RA terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang tubuhnya sendiri. Sel yang disebut fibroblast-like synoviocytes (FLS) yang tumbuh dan bergerak dari sendi ke sendi, mengeluarkan zat yang merusak sendi, menyebabkan peradangan dan rasa sakit.

Hewan seperti ular dan kalajengking memiliki racun yang dapat memblokir saluran sel daat melumpuhkan dan bahkan membunuh mangsanya.

Tim peneliti pada penelitian ini menemukan bahwa salah satu komponen dalam racun kalajengking secara khusus dapat menghalangi saluran kalium FLS dan bukan saluran di sel penting lainnya.

Komponen dalam venom kalajengking ini disebut iberiotoxin.

Namun, tidak disebutkan spesies kalajengking yang dijadikan penelitian.

Begitulah. Di alam, hewan menggunakan racun untuk membela diri atau untuk menangkap mangsanya.

Di laboratorium, para ilmuwan menemukan menjadikan racun ini untuk memberi harapan hidup bagi manusia, sesuai dengan lambang ular di logo kesehatan.

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved