Pemakaman KM 25 Kijang! Kisah Perjuangan Mahyuti Cs Menyambung Hidup dengan Bunga!

Mahyuti, perempuan 58 tahun berjualan bunga campuran dalam kemasan kantong plastik langsung memayungi dirinya serta karung goni bunga di depan pintu

Pemakaman KM 25 Kijang! Kisah Perjuangan Mahyuti Cs Menyambung Hidup dengan Bunga!
tribunbatam/aminnudin
Mahyuti (56) tengah melayani pembeli bunga ziarah di komplek pemakaman umum Kijang Kota 

TRIBUNBINTAN.COM, BINTAN-Hujan hampir sejam mengguyur Kijang, Rabu (16/5/2018), pukul 14.00 WIB. Mahyuti, perempuan 58 tahun yang berjualan bunga campuran dalam kemasan kantong plastik tersebut langsung memayungi dirinya serta karung goni bunga di depan pintu masuk tempat pemakaman umum (TPU) Km 25 Kijang Kota.

Baca: Terungkap! Inilah 9 Sayuran Rumahan Penurun Kolesterol Jahat di Tubuh! Nomor 8 Mengejutkan!

Baca: Jangan Sepelekan! Inilah 10 Ciri Kuku Penanda Penyakit Berbahaya di Tubuh Anda!

Baca: Mengejutkan! Inilah 6 Ciri Mata Penanda Serangan Penyakit di Tubuh Anda! Nomor 6 Waspadai!

Usai hujan reda, satu persatu dagangan bunganya ditata di meja kecil lengkap dengan sebotol air mineral sebagai pelengkap bagi peziarah kubur. Harga untuk sekantong bunga ziarah rata-rata oleh pedagang dijual Rp 3.000 dan Rp 5.000. Isinya campuran, kembang merah dan daun pandan.

Omzet kotor berjualan bunga ziarah bagi pedagang bunga musiman semacam Mahyuti berkisar diantara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per hari. Untuk sekarung goni bunga yang dijual, Mahyuti mengeluarkan modal Rp 75 ribu. Modal itu akumulasi dari biaya membayar ojek pulang pergi dari rumahnya serta membeli daun pandang.

"Ongkos ojek pulang bale Rp 15.000. Kemudian beli daun pandan, dan kadang biaya modal bayar upah pencari bunga,"kata Mahyuti.

Ongkos ojek ini masih harus ditambah dengan biaya pengangkutan karung. Total dengan karungnya, Mahyuti bisa membayar biaya ojek Rp 20 ribu. Modal dikeluarkan untuk beli kantong Rp 3.000.

Mahyuti harus mengeluarkan biaya ojek karena tidak memiliki sepeda motor seperti pedagang lain. Suaminya sebagai tulang punggung keluarga telah meninggal 14 tahun lalu.

Sedangkan ketiga anaknya menyebar dan mencari nafkah di tempat lain. Walhasil, semua urusan ekonomi benar benar dilakukan seorang diri. Di usia senja, perempuan ini masih harus bertaruh hidup demi tetap survive.

Omzet bersih dia dari berjualan bunga ziarah tidak terlalu besar, namun pas untuk hidup sehari hari. Dia menyebut, ada beberapa perempuan lain yang juga memanfaatkan momen ziarah jelang ramadan untuk berjualan bunga ziarah.

Mahyuti (56) tengah melayani pembeli bunga ziarah di komplek pemakaman umum Kijang Kota
Mahyuti (56) tengah melayani pembeli bunga ziarah di komplek pemakaman umum Kijang Kota (tribunbatam/aminnudin)

Beberapa di antara mereka adalah tulang punggung keluarga. "Kayak ibu yang di pojok sana, itu sudah gak ada suaminya. Jualan begini buat hidupi keluarga,"kata Mahyuti sambil menunjuk beberapa penjual yang dekat simpang tiga SPBU 25 Kijang.

Amatan Tribun di lokasi, tidak semua para peziarah membeli bunga di pedagang yang berjejer di pintu masuk TPU Km 25 Kijang. Beberapa membawa bunga sendiri dari rumah.

Lia, salah satunya. Wanita ini memilih membawa bunga untuk ziarah sendiri dari rumah. "Kebetulan ada beberapa ponakan saya suruh cari sejak pagi. Mereka ngumpulin dan ini yang kemudian kita bawa,"katanya sambil memasuki komplek pemakanan.

Sampai pukul 16.30 WIB, para peziarah dari berbagai tempat di Bintan Timur sudah banyak yang berdatangan ke TPU 25 Kijang. Momen jelang ramadan dimanfaatkan warga untuk menziarahi makam sanak famili yang sudah mendahului.

Area makam tampak rapi dan bersih. Beberapa pohon peneduh di lokasi menambah kesan hijau dan rindang komplek pemakaman. Suasana tampak tenang.(*)

Penulis: Aminnudin
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help