Berita Anambas

Kantongi Keterangan 40 Saksi, Kejari Natuna Tetapkan Tersangka Kasus Pasar Miring di Palmatak!

Dugaan tindak pidana korupsi pada pembangunan Pasar Tradisional di Desa Payaklaman Kecamatan Palmatak memasuki babak baru

Kantongi Keterangan 40 Saksi, Kejari Natuna Tetapkan Tersangka Kasus Pasar Miring di Palmatak!
Dokumentasi Kacabjari Natuna di Tarempa
Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Natuna di Tarempa Muhammad Bayanullah saat menjawab pertanyaan awak media di kantor Kejaksaan Negeri Natuna Selasa (22/5/2018) 

TRIBUNBATAM.id, ANAMBAS-‎Dugaan tindak pidana korupsi pada pembangunan Pasar Tradisional di Desa Payaklaman Kecamatan Palmatak memasuki babak baru.

Kejaksaan Negeri Natuna menetapkan Rustam Ketua Koperasi Sekarwangi sebagai tersangka pada kasus yang proses penyidikannya sudah berjalan sejak awal tahun 2018 ini.

Baca: Heboh! Jaket Merah Gibran di Mata Najwa Banyak Peminat, Bandingkan Harga dengan Jaket Denim Jokowi

Baca: Fantastis! Harga Gaharu Melebihi Emas, Inilah Keistimewaan Tanaman Berjuluk Emas Hijau Nusantara!

Baca: Mengejutkan! Inilah 7 Cara Ampuh Hilangkan Rasa Kantuk Saat Jalani Puasa! Mau Mencoba?

Baca: Ditanya Soal Sekdaprov Kepri, Wajah Gubernur Nurdin Basirun Mendadak Berubah! Ada Apa?

Penetapan status tersangka kepada Kepala Koperasi Sekarwangi ini, diakui Kepala Cabang Kejaksaan Negeri Natuna di Tarempa, Muhammad Bayanullah oleh beberapa hal.

Salahsatunya keterangan 40 orang saksi yang menyebutkan kalau anggota koperasi tidak pernah dilibatkan dalam pembangunan pasar tersebut.

"‎Terdapat tiga alat bukti yang menjadi dasar kami. Salahsatunya keterangan dari sejumlah saksi termasuk hasil audit BPK dan hasil penelitian dari tim ahli konstruksi.

Kami juga mengkonfirmasi laporan belanja bahan bangunan ke toko yang terindikasi fiktif," ujarnya Selasa (22/5/2018).

Ia menjelaskan, program pembangunan pasar ini merupakan program Kementrian yang merata ke sejumlah daerah di Indonesia pada tahun 2013 lalu. Adapun nilai pembangunan pasar yang dikucurkan oleh Kementrian untuk di Palmatak mencapai Rp 900 juta.

Hanya saja, dalam pelaksanaannya pembangunan proyek tersebut tidak selesai serta tidak bisa dimanfaatkan sesuai fungsinya. Bayan juga menyebutkan kalau indikasi kerugian Negara dari kasus ini mencapai Rp 810 juta.

"‎Selain pelaksanaannya yang tidak selesai. Kondisi pasar gagal konstruksi sehingga output pembangunannya tidak tercapai sebagaimana fungsinya," ungkapnya.

Bayan juga berkoordinasi dengan tim ahli dengan mendatangkan ahli konstruksi dari Universitas Riau dan LKPP untuk memastikan kondisi pasar tradisional dari sisi konstruksi bangunan.

Hasil dari tim ahli tersebut, kemudian disampaian kepada Badan Pemeriksa Keuangan yang ada di Batam yang diketahui terdapat indikasi kerugian ‎Negara dalam pembangunan pasar tersebut.

Meski sudah ditetapkan ‎sebagai tersangka, namun pihaknya masih belum melakukan penahanan. Saat ini, penyidik sedang melengkapi berkas. Selama proses penyelidikan berlangsung,

tersangka pun dinilai kooperatif saat diminta untuk hadir untu diminta keterangannya. ‎Pihaknya pun berharap agar tersangka dapat mengembalikan kerugian Negara.

"Mudah-mudahan kedepannya tetap kooperatif. Untuk tersangka lain, bisa saja bertambah. Karena kami melihat ini bukan tindakan tunggal. Ini yang kami terus dalami," bebernya.(*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved