Tausiah Ramadan

Memaknai Hidup

Mereka yang hidupnya tanpa perjuangan dan pengorbanan, mungkin tingkat kebahagiaan dan kebanggaan terhadap dirinya juga rendah

Memaknai Hidup
COMMA Network
ilustrasi: Membaca Alquran 

Profesi juga sangat berpengaruh bagi seseorang dalam membayangkan, mengejar, dan membangun hidup bermakna yang menjadi sumber kebanggaan dan kebahagiaan.

Seorang seniman, atlet, penulis, militer, dan professi lainnya lagi masing-masing memiliki gambaran, dan memori peristiwa-peristiwa serta prestasi hidup yang dianggap paling bermakna bagi hidupnya.

Mereka yang memiliki kejelasan konsep tentang hidup bermakna dan merasa tertantang untuk meraihnya, hidupnya lebih dinamis dan terarah. Seberapa besar makna hidup yang membanggakan seseorang berkaitan dengan seberapa besar perjuangan dan pengorbanan yang dilakukannya.
 
Mereka yang hidupnya datar-datar saja tanpa perjuangan dan pengorbanan, mungkin tingkat kebahagiaan dan kebanggaan terhadap dirinya juga rendah, datar-datar saja. Kebalikan dari penganut filsafat hidup hedonisme-materialisme adalah mereka yang menganut paham idealisme-spiritualisme.

Penganut paham kedua ini merasa hidup yang pantas dibanggakan dan bermakna itu bukannya terletak dalam terpenuhinya kenikmatan badani-duniawi dan mendatangkan self-glory, tetapi prestasi mendekati pada nilai-nilai kehidupan ideal yang berguna bagi sebanyak mungkin masyarakat.

Sejarah memiliki banyak catatan, siapa saja pemimpin bangsa dan dunia yang masuk kategori penganut filsafat dan idelogi hedonisme dan siapa masuk ketegori idealisme-spiritualisme.

Penghadapan kategori ini tidak mesti kelompok hedonis berarti kaya-raya, lalu pendukung idealisme adalah orang-orang yang miskin.

Faktor utama yang membedakan adalah sistim nilai yang diyakini dan diperjuangkannya. Dari situ akan muncul perbedaan dalam membuat agenda hidup dan menentukan prioritas serta kesiapan untuk berkurban dalam mencapai target yang dipandang bermakna dan berharga bagi hidupnya.

Orang yang meyakini dan punya agenda memperjuangkan kejujuran dan kebenaran, mereka siap hidup sederhana demi memelihara hidup yang halal. Minimal untuk kebaikan dirinya.

Namun jauh lebih bagus lagi jika mereka juga mengajak dan menggerakkan orang lain agar menjalani hidupnya secara baik dan benar. Banyak tokoh sejarah dunia maupun nasional mengajarkan, harga diri dan kebanggaan sebuah bangsa itu selalu dibangun dan dijaga oleh para pejuang idealisme-spiritualisme.

Meski jatah umur sama, namun produk yang dihasilkan berbeda. Pikiran, ucapan, tindakan dan akibat orang tidaklah sama.

Ada yang bangkrut, ada yang untung, ada yang merasa impas saja. Dalam bahasa Arab, kata umur seakar dengan kata makmur.

Jadi, setiap hari mestinya seseorang membuat prestasi menciptakan devisa, nilai tambah atau kemakmuran minimal buat dirinya sendiri. Idealnya melebar untuk keluarga, masyarakat, negara dan bangsa. (*)

Editor:
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved