Utang Indonesia di Era Jokowi Naik 48 Persen, Perlukah Khawatir?

Selama 4 tahun masa pemerintahan Presiden Jokowi, utang naik 48 persen hingga mencapai 181 miliar dolar AS.

Utang Indonesia di Era Jokowi Naik 48 Persen, Perlukah Khawatir?
acumon.net.au
ilustrasi Utang 

Isu lainnya yang penting untuk kita amati adalah penggunaan utang oleh pemerintah.

Pengurangan proporsi pinjaman luar negeri memberikan fleksibilitas dan ruang lebih dalam penggunaan pinjaman.

Utang yang diperoleh dari kreditor asing sering kali disertai dengan kondisi dan batas-batas bagaimana debitur dapat menggunakan pinjaman tersebut.

Pemerintah telah mengalokasikan sebagian besar utangnya ke bidang infrastruktur yang menjadi prioritas utama dalam pemerintahan Jokowi.

Dana utang dialokasi untuk proyek-proyek skala besar seperti bandara, pelabuhan laut, sistem transportasi massal, jalan tol, serta pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi.

Dalam rencana kerja dan anggaran Jokowi, pengeluaran untuk infrastruktur meningkat secara konsisten di kisaran 10 miliar dolar AS per tahun, hampir empat kali lipat dari pemerintahan sebelumnya.

Selain infrastruktur, pemerintahan Jokowi juga memprioritaskan pengeluaran di dua sektor ekonomi utama lainnya, yaitu pendidikan dan kesehatan.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar, pemerintah Jokowi telah mengalokasikan 20 persen dari anggaran tahunan untuk pendidikan, termasuk menyiapkan Sovereign Wealth Fund untuk mengelola dana beasiswa bagi pendidikan pascasarjana.

Di sektor kesehatan, pemerintah telah meningkatkan anggaran untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Hingga September 2017 sekitar 70 persen penduduk Indonesia telah menikmati manfaat dari program jaminan kesehatan pemerintah.

Target pemerintah adalah menjamin kesehatan seluruh penduduk Indonesia melalui program ini pada 2019.

Di sisi lain, pemerintahan Jokowi telah mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) sejak 2015.

Beberapa pihak menganggap kebijakan ini tidak populer untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di jangka pendek.

Biaya bahan bakar yang meningkat memacu peningkatan biaya produksi dan penurunan kegiatan ekonomi.

Namun, keputusan ini akan berdampak positif dan substansial dalam pengurangan beban utang Indonesia di masa mendatang.

Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan kenaikan anggaran di bidang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur masing-masing sebesar 11 persen, 54 persen, dan 118 persen dari tahun 2014 ke 2017.

Di sisi lain, anggaran untuk subsidi BBM mengalami penurunan sebesar 77 persen.

Strategi anggaran pemerintah dapat dikatakan sebagai keputusan yang baik untuk peningkatan produktivitas dan standar hidup.

Sesuai dengan argumen teori ekonomi makro klasik, pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan adalah pertumbuhan yang disertai dengan peningkatan standar hidup yang dihasilkan dari peningkatan produktivitas.

Produktivitas sangat ditentukan oleh pertumbuhan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia.

Dengan mengalokasi sebagian besar anggaran untuk sektor infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, Jokowi berada di jalur yang benar untuk meningkatkan produktivitas.

Peningkatan produktivitas yang memicu pertumbuhan ekonomi akan membawa Indonesia ke posisi utang yang semakin membaik.

Lalu apa? Akumulasi utang pemerintah Indonesia memang satu hal yang perlu disikapi dengan cermat.

Pengalaman Yunani telah memberikan pelajaran bagi negara-negara untuk mengevaluasi kembali pendekatan mereka terhadap manajemen utang.

Namun, kami tidak melihat masalah utang Indonesia sebagai isu ekonomi yang mengancam.

Di masa menjelang pemilihan presiden, persoalan utang Indonesia sepertinya dibesar-besarkan dan dipolitisasi.

Rasio utang terhadap PDB Indonesia masih dalam batas yang dapat dikendalikan.

Indonesia juga bergerak ke arah yang benar dalam penggunaan utangnya secara efektif.

Tiga lembaga internasional pemberi peringkat kredit dalam hal ini sepakat dengan analisa tersebut.

Peringkat credit rating Indonesia baru-baru ini mengalami kenaikan.

Tentu saja masih ada ruang perbaikan di berbagai hal yang lain.

Indonesia masih harus terus berjuang untuk menaikkan pendapatan perpajakan, meningkatkan efisiensi birokrasi, dan memerangi korupsi. (*)

Penulis adalah: Tommy Soesmanto Lecturer in Economics, Griffith University dan Yenny Tjoe Lecturer/ Tutor in International Economics, Griffith University

Artikel ini hasil kerja sama Kompas.com dan The Conversation dengan judul asli "Utang Indonesia naik hampir dua kali lipat di bawah Jokowi: perlukah kita khawatir?"

Editor: Sri Murni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help