Historia

Mengintip Kisah Gemerlap Nyonya Sosialita di Batavia Zaman VOC, Ini Tempat Nongkrongnya!

Nyonya sosialita di Jakarta ternyata telah ngetren sejak zaman VOC. Beginilah kehidupan dan tempat nongkrong mereka di masa itu

Mengintip Kisah Gemerlap Nyonya Sosialita di Batavia Zaman VOC, Ini Tempat Nongkrongnya!
via intisarionline
Para nyonya elite di batavia punya kebiasaan unik saat beribadah di Kruiskerk, Gereja Salib yang bekas lahannya kini menjadi Museum Wayang 

TRIBUNBATAM.ID-Banyak cerita memikat tentang kehidupan dalam tembok kota Batavia.

Salah satunya, kehidupan para perempuan indis di kota yang didirikan oleh Jan Pieterzoon Coen pada awal abad ke-17 tersebut.

Nicolas de Graaff pertama kali menyaksikan Kota Batavia pada akhir 1640.

Setidaknya dia telah melakukan perjalanan dari Belanda ke Hindia Timur sebanyak lima kali.

Baca: Mengenal Tim Nanggala! Intelijen Tempur Kopassus Yang Sering Gunakan ‘Nama Wanita’ Sebagai Kode

Baca: Inilah Cerita Sedih di Balik Pembuatan Naskah Film Si Doel The movie, Rano Karno Blak-blakan

Baca: Mengintip Seserahan Lamaran yang Diterima Tasya Kamila, Ada iPhone X dan Tas Rp 60 Juta

Baca: Tampak Berpendar dari Jakarta, Di Manakah Tersimpan Harta Karun VOC di Gunung Salak?

Dia merupakan ahli bedah di kapal VOC, seniman lukis, dan penulis kisah perjalanan.

Tidak seperti pelancong lain yang mengisahkan keindahan dan kesyahduan Batavia dengan kanal-kanalnya, Graaff justru mengisahkan tentang perilaku perempuan di Batavia yang kadang terkesan memalukan.

Tampaknya Graaff adalah fenomena. Catatan tentang pengamatannya yang mendalam seputar kehidupan perempuan di Hindia Timur baru diterbitkan pada 1701—setelah dia wafat—dalam Oost-Indise Spiegel.

Sudah menjadi tren saat itu di Batavia bahwa nyonya-nyonya elite punya kebiasaan unik saat beribadah di Kruiskerk—Gereja Salib yang bekas lahannya kini menjadi Museum Wayang. Mereka, para nyonya Belanda, maupun mestizo atau peranakan, menjadikan gereja sebagai ajang pamer status sosial.

Pada abad itu, sangat sedikit perempuan Eropa yang hijrah ke Batavia. Para nyonya itu mengikuti kewarganegaraan suaminya yang asal Belanda.

Jadi dalam tembok kota bayak ditemui perempuan asli Belanda, Indis, Kreol, dan Asia.

Halaman
12
Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved