Home »

News

Historia

Mengintip Kisah Gemerlap Nyonya Sosialita di Batavia Zaman VOC, Ini Tempat Nongkrongnya!

Nyonya sosialita di Jakarta ternyata telah ngetren sejak zaman VOC. Beginilah kehidupan dan tempat nongkrong mereka di masa itu

Mengintip Kisah Gemerlap Nyonya Sosialita di Batavia Zaman VOC, Ini Tempat Nongkrongnya!
via intisarionline
Para nyonya elite di batavia punya kebiasaan unik saat beribadah di Kruiskerk, Gereja Salib yang bekas lahannya kini menjadi Museum Wayang 

Mereka bukanlah para istri yang menerima apa adanya penghasilan suami, demikian menurut Graaff, melainkan para istri yang terlibat langsung dalam perdagangan atau perantara jual beli rumah atau pemberi pinjaman uang.

Graaf mengisahkan perilaku para nyonya di Batavia yang memamerkan perhiasan mewah tatkala mereka pergi dan pulang dari gereja. Segala hal telah mereka siapkan lebih glamor ketimbang waktu lain, demikian menurut Graaff.

Selain berbusana dan bertakhtakan perhiasan mewah, Graaff juga mencatat bahwa nyonya-nyonya Batavia datang ke gereja yang diiringi budak lelaki dan perempuan mereka.

Para budak membawa parasol berbodir dengan motif daun-daun yang memayungi majikan mereka selama perjalanan.

Jean Gelman Taylor, menulis tentang pamer kemewahan itu di dalam bukunya Social World of Batavia: European and Eurasian in Dutch Asia yang diterbitkan oleh The University of Wisconsin Press pada 1983.

Para nyonya elite di batavia punya kebiasaan unik saat beribadah di Kruiskerk, Gereja Salib yang bekas lahannya kini menjadi Museum Wayang
Para nyonya elite di batavia punya kebiasaan unik saat beribadah di Kruiskerk, Gereja Salib yang bekas lahannya kini menjadi Museum Wayang (via intisarionline)

Menurut Taylor, yang seorang Guru Besar di University of New South Wales, kebiasaan pamer ini tidak berasal dari kalangan ningrat di negeri asal mereka, Belanda. Justru kebiasaan ini adalah pengaruh budaya Asia dan budaya Portugis, demikian hemat Taylor.

Graaf melukiskan dalam catatannya bahwa nyonya-nyonya itu ibarat putri raja yang manja dan selalu ingin dilayani dan dipenuhi segala kebutuhannya.

“Bahkan sedotan yang jatuh di lantai, mereka memanggil para budak untuk mengambilnya,” demikian tulisnya. Malangnya, para budak kerap didera sumpah serapah atau hukuman cambuk apabila mereka bekerja lamban atau tak memenuhi pinta sang nyonya majikan.

Demikianlah, sepotong kehidupan sosial di sebuah kota yang kelak melahirkan Megapolitan Jakarta dengan segala keruwetan dan gengsi budayanya.

Jikalau nyonya sosialita zaman VOC tampak eksis bersosialisasi di gereja, kini nyonya sosialita modern abad ke-21 tampak eksis bergaul di mal dan pusat berbelanjaan mewah. (Intisarionline/Nationalgeographic.co.id/Mahandis Yoanata Thamrin)

Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help