Historia

Tampak Berpendar dari Jakarta, Di Manakah Tersimpan Harta Karun VOC di Gunung Salak?

Harta itu berupa tambang emas dan perak yang konon terletak di sebelah Selatan gunung Gede, yang dapat terlihat jelas dari Jakarta pada cuaca terang

Tampak Berpendar dari Jakarta, Di Manakah Tersimpan Harta Karun VOC di Gunung Salak?
via intisarionline
Gunung Salak 

Di kaki gunung Parang itu mereka menemukan sejumlah terowongan tambang yang tak terpakai lagi, sehingga orang mengambil kesimpulan bahwa dulu memang pernah ada yang mengusahakan penggalian bahan tambang dari sini. Kalau begitu berita mata-mata itu benar, tentunya.

Pekerjaan membuka tambang di daerah ini merupakan pekerjaan yang berat, karena daerah sekelilingnya masih hutan rimba tak berpenghuni manusia, sehingga semua perbekalan seperti makanan, alat-alat pertambangan dan perlengkapan lain harus dibawa dari Jakarta melewati daerah-daerah yang hampir tak dapat ditembus.

Juga tenaga kerjanya harus didatangkan dari tempat lain.

Sesuai dengan kebiasaan Kompeni, mereka main perintah saja. Bupati Karawang diperintahkan mengerahkan rakyat makin lama makin banyak. Kemudian bahkan sampai didatangkan rakyat dari daerah Bandung.

Terowongan-terowongan yang digali dengan kerja paksa itu makin dalam: setiap waktu mereka berharap dapat tiba-tiba menjumpai lapisan emas yang digandrungi itu. Tetapi hari besar itu tetap tak kunjung tiba, mimpi mereka tetap mimpi hampa belaka.

Sementara itu Dirk Durven rajin mengirimkan laporan-laporan bagus kepada pucuk pimpinan Kompeni yang bersifat Asal Bapak Senang. Antara lain bahwa ia telah mendaki dan menyelidiki gunung Gede ternyata menurut laporan ahli di dalam gunung itu terdapat ganggang terdiri dari emas murni.

Sebenarnya Durven hanya ingin menarik perhatian sebanyak mungkin pada dirinya, agar dapat memenuhi ambisinya untuk naik terus di jenjang kekuasaan.

Dalam pada itu pekerjaan menambang diperluas sampai beberapa kilometer di sekitarnya, antaranya ke bukit Pasir Angin. Setelah lama menggali dan dengan korban rakyat yang tak sedikit, emas yang dicari itu belum juga mau menampakkan diri.

Ahli yang didatangkan dari negeri Belanda bernama Balman membuat laporan yang tak kalah bagusnya — ia mengatakan bahwa dari contoh-contoh yang beratnya 100 pon dapat dihasilkan emas seharga f 1,15. Belakangan ternyata bahwa contoh bijih itu berasal dari pegunungan Harz.

Akhirnya karena hasilnya hanya kertas-kertas laporan saja dan bukan harta karun yang diharapkan, Kompeni memanggil kembali Durven dan pekerjaan dihentikan.

Halaman
123
Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help