Korban Tewas Banjir Bandang Jepang Sudah Seratusan Orang, Kematian Tertinggi Sejak 1982

Japan Today melaporkan, jumlah korban tewas sejauh ini telah mencapai 132 orang.

Korban Tewas Banjir Bandang Jepang Sudah Seratusan Orang, Kematian Tertinggi Sejak 1982
AFP/Martin Bureau
Petugas penyelamat di Jepang bertempur dengan waktu untuk menjangkau warga yang terperangkap akibat banjir bandang dan tanah longsor. Foto ini diambil pada Selasa (9/7/2018) di Kumano, Hiroshima. 

TRIBUNBATAM.id, KUMANO— Tim penyelamat di Jepang pada Selasa (10/7/2018) sedang berlomba dengan waktu untuk mengevakuasi sebanyak mungkin penduduk yang masih hilang akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Japan Today melaporkan, jumlah korban tewas sejauh ini telah mencapai 132 orang.

Ini merupakan jumlah kematian tertinggi yang disebabkan hujan di Jepang sejak 1982.

Upaya pencarian terus berlanjut di wilayah tersulit di Hiroshima dan Okayama, begitu pula dengan prefektur sekitarnya meski 72 jam pertama sejak bencana telah berlalu.

Durasi 72 jam tersebut dianggap sebagai periode yang menentukan untuk menemukan orang dalam keadaan selamat.

Hujan lebat di Jepang terutama mulai Jumat (6/7/2018) hingga Sabtu (7/7/2018) pagi telah memicu longsor dan banjir yang meluas.

Dilansir AFP, petugas penyelamat memeriksa satu per satu rumah warga untuk mencari korban selamat atau pun korban tewas.

Baca: Di Jepang, Suzuki Jimny Sirra Dibanderol Rp 225 Juta, Indonesia Berapa?

Baca: Banjir Bandang dan Tanah Longsor Landa Jepang, 80 Orang Tewas dan Puluhan Lainnya Hilang

Baca: Sebar Gas Saraf yang Tewaskan Belasan Orang, Pemimpin Sekte Hari Kiamat Jepang Dieksekusi Mati

"Ini yang kami sebut operasi jaringan. Kami memeriksa setiap rumah untuk melihat apakah ada orang yang terperangkan di dalam," kata seorang pejabat prefektur Okayama.

"Kami tahu jika operasi ini berlomba dengan waktu, kami berusaha sekeras yang kami bisa," imbuhnya.

Regu petugas pemadam kebakaran dari luar prefektur juga dikerahkan untuk melakukan misi pencarian korban.

Halaman
12
Editor: Sri Murni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help