Fakta-fakta Sejarah di Balik Keberhasilan Indonesia Akuisisi 51 Persen Saham Tambang Emas Freeport

Kamis (12/7/2018), merupakan hari bersejarah dalam upaya Indonesia memiliki saham mayoritas PT Freeport Indonesia yang sudah 51 tahun beroperasi.

Fakta-fakta Sejarah di Balik Keberhasilan Indonesia Akuisisi 51 Persen Saham Tambang Emas Freeport
getty images
Tambang Freeport Indonesia di Papua. 

TRIBUNBATAM.id- Kamis (12/7/2018) , merupakan hari bersejarah dalam upaya Indonesia memiliki saham mayoritas PT Freeport Indonesia yang sudah 51 tahun mengeruk hasil tambang tembaga dan emas di Tembagapura, Papua.

Kemarin, pemerintah Presiden Joko Widodo menandatangani kesepakatan baru dengan Freeport-McMoRan, yang menjadikan Indonesia sebagai pemilik mayoritas, 51 persen, saham PT Freeport Indonesia.

Kerja sama Freeport yang bermarkas di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, dimulai ketika Indonesia diperintah Presiden Soeharto. Keduanya menandatangani kerjasama tahun 1967.

Momen ini, ditafsirkan sejarawan Rushdy Hoesein PhD sebagai hal yang tidak terlalu jelas dan lebih merupakan agenda politik luar negeri AS.

Baca: Kata Presiden Freeport, Indonesia Bisa Kantongi Rp864 Triliun Pasca-Akuisisi 51 Saham FI

Baca: Inalum akan Akuisisi Freeport, Sejumlah Bank Plat Merah Jajaki Pembiayaannya

Baca: Pemerintah Targetkan Divestasi Freeport Rampung Bulan Ini, BUMD Kebagian 20 Persen Saham

"Saya katakan sumir, tidak begitu jelas karena pada saat itu Freeport bukan pemain utama.

"Pemain utama dalam rangka Irian Barat kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, itu memang campur tangan (pemerintah) Amerika besar. Robert Kennedy, adiknya Kennedy (Presiden John F. Kennedy), itu pernah diutus kakaknya untuk membantu menyelesaikan," tambah Rushdy.

Perusahaan milik pemerintah Indonesia, Inalum, menandatangani kontrak pembelian saham PT Freeport Indonesia.

Ketakutan AS

Kerjasama Freeport pertama kali dengan Indonesia, menurut Rushdy, saat itu AS memang khawatir Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno akan menjadi bagian dari pemerintahan komunis Uni Soviet di tengah-tengah bergejolaknya perang dingin 'Timur dan Barat'.

Halaman
123
Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help