Uni Eropa Jatuhkan Denda Rp72 Triliun ke Google Gegara Dominasi Aplikasi

Uni Eropa mendenda sebesar 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp72 triliun (kurs Rp14.400) terhadap induk perusahaan Google, Alphabet.

Uni Eropa Jatuhkan Denda Rp72 Triliun ke Google Gegara Dominasi Aplikasi
bidik layar laman google
Google doodle hari ini, Selasa (9/1/2018) tentang Bunga Rafflesia arnoldi. 

TRIBUNBATAM.id, NEW YORK - Uni Eropa mengenakan denda antimonopoli sebesar 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp72 triliun (kurs Rp14.400) terhadap induk perusahaan Google, Alphabet.

Pemberlakukan denda disebabkan Google dinilai telah melakukan pelanggaran dengan mendominasi sistem operasi android.

Sampai saat ini, Android merupakan salah satu sistem operasi perangkat lunak paling populer di seluruh dunia.

Dilansir dari CNBC, dalam keterangan tertulisnya, Google menyatakan akan mengajukan banding atas putusan tersebut, dengan menentang pandangan UE bahwa perangkat lunak mereka telah bersaing secara adil.

Pejabat Eropa mengatakan, Alphabet secara tidak adil mengutamakan layanannya sendiri dengan memaksa berbagai produsen ponsel pintar untuk melakukan pre-install aplikasi Google seperti, Chrome dan Search, sepaket dengan toko aplikasinya (appstore), Play.

Dalam keputusannya, UE pun menilai Apple sebagai pesaing Google yang paling ganas di pasar ponsel pintar, tidak cukup membatasi Google.

Baca: Negara Paling Maju di Asia, tapi Mengapa Google Maps Tak Bisa Digunakan di Korea Selatan?

Baca: Kehebatan Abraham Ortelius yang Jadi Google Doodle Hari Ini. Bapak Geografi, Pencipta Atlas Pertama

Baca: Heboh! Jika Sering Muncul Sayang, Layanan Google Play Berhenti di Ponsel Android: Waspadalah!

Sebab, Apple juga melakukan pre-install beberapa apliasi dalam iPhone mereka.

Keputusan tersebut diambil dengan alasan untuk melindungi konsumen Eropa.

"Mereka memiliki produk yang kami semua suka gunakan," ujar Komisioner UE untuk Persaingan Dagang Margarethe Vestager.

"Satu-satunya hal yang tidak kami sukai adalah ketika mereka menyalahgunakan kesuksesan mereka dan melanggar batasan secara ilegal," lanjut dia.

Halaman
12
Editor: Sri Murni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help