Biaya Hidup Tinggi Namun Orang Jepang Punya Tabungan Banyak. Begini Cara Mereka Berhemat

Orang Jepang terkenal suka berkelompok. Berhemat pun mereka lakukan secara gotong royong.

Biaya Hidup Tinggi Namun Orang Jepang Punya Tabungan Banyak. Begini Cara Mereka Berhemat

Supaya bisa berhemat, keluarga-keluarga yang tinggalnya berdekatan mencarter bus dan berangkat bersama-sama ke tempat liburan.

"Perban pusar" ialah hak istri

Orang Jepang termasuk orang yang banyak membawa oleh-oleh kalau pulang bepergian. Lihat saja di lapangan-lapangan terbang. Soalnya, keluarga dan teman biasa memberi bekal uang sebelum mereka berangkat, supaya bekal mereka bertambah.

Jumlahnya bisa 50 dolar, bisa juga sampai 500 dolar, yaitu kalau punya kakek-nenek yang senang memanjakan cucu. Sebagai imbalan, mereka tidak ragu-ragu untuk membeli oleh-oleh.

Oleh-oleh itu biasanya dibeli dengan setengah dari uang yang didapat dari pemberi. Maka itu cognac dan parfum mahal di toko-toko bebas bea di lapangan terbang sering diborong orang Jepang!

Yang pergi kc luar negeri bukan cuma orang kaya, tetapi juga orang-orang muda karyawan kantor yang gajinya tidak seberapa. Mereka menabung sedikit demi sedikit.

Umumnya pria Jepang memberikan  seluruh gajinya kepada istrinya, yang akan mengelola uang itu. Si suami hanya akan mengambil uang saku. Istri bukan cuma sekedar menabung menurut rencana keluarga dan memasukkan bonus ke bank, tetapi juga menyisihkan sedikit dari uang belanja sehari-hari.

Tabungan kecil ini dipisahkan dari anggaran keluarga. Istri boleh menggunakan tabungan kecil itu sesuka hatinya.

Nama tabungan kecil itu heso kuri, artinya 'perban pusar’. Entah mengapa namanya begitu.

Heso kuri ini bisa dikumpulkan dengan bermacam-macam cara. Di daerah perumahan yang  letaknya di luar kota, kaum istri membentuk kelompok yang kira-kira terdiri atas dua puluh orang, biasanya yang mempunyai banyak kepentingan bersama, umpamanya saja: anak-anak mereka sekolah atau mereka anggota organisasi yang sama atau rumah mereka berdekatan.

Sebulan sekali mereka mengisi daftar belanjaan. Lalu daftar belanjaan itu disampaikan kepada orang yang mendapat giliran berbelanja. (Tugas belanja, mengumpulkan uang dan membagikan barang belanjaan ini digilir).

Seminggu kemudian pemesan-pemesan sudah bisa mengambil barangnya di suatu tempat yang berdekatan.

Karena barang-barang itu dibeli di kota, harganya agak lebih murah dibandingkan dengan di tempat mereka. Tetapi dalam hal sayur-mayur dan buah-buahan mereka tidak mau berhemat.

Mereka memilih sayur-sayur dan buah-buahan yang tumbuh tanpa pestisida. Karena tidak tahan lama, mereka tidak bisa membelinya jauh-jauh atau menyimpannya. Meskipun demikian wanita-wanita itu rela, demi kesehatan keluarga mereka.

Daripada menghemat di bidang itu, mereka merasa lebih baik menambah tabungan dengan cara lain. Di daerah-daerah perumahan di luar kota umpamanya, kita sering melihat  pengumuman kecil di sebelah papan nama.

Kalau kita bisa mcmbacanya, ternyata isinya menyatakan bahwa nyonya rumah berijazah untuk mengajarkan sesuatu ketrampilan, umpamanya saja mengajar piano, organ, menjahit, merangkai bunga dan macam-macam lagi, termasuk shiatsu, yaitu semacam ilmu urut.

Jadi orang Jepang berhemat, menambah penghasilan mereka dan menabung. Kalau ada orang yang tiba-tiba lupa bahwa menabung itu adalah seni tradisional Jepang yang terhormat, maka bank akan mengingatkannya.

Petugas-petugas bank mempunyai  kebiasaan untuk mendatangi rumah demi rumah dalam mencari langganan baru, terutama menjelang bonus dibagikan. Siapa tahu suami lupa memasukkan bonus di kantor! (PHP)

Tags
Jepang
Bank
Editor: Rio Batubara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved