DPRD Bintan Sidak ke Pabrik Karet di Jalan Nusantara, Begini Jawaban Perusahaan

Bau tak sedap menyebar sampai radius beberapa ratus meter. Bahkan menyebar sampai ke Tanjungpinang

DPRD Bintan Sidak ke Pabrik Karet di Jalan Nusantara, Begini Jawaban Perusahaan
tribunbatam/aminnudin
Lokasi pabrik pengolahan karet di Jalan Nusantara KM 16 Kijang 

TRIBUNBINTAN.COM, BINTAN-Bau gumpalan getah karet atau bokar (bahan olahan karet) sudah lama dikeluhkan warga Bintan yang tinggal di sekitaran Jalan Nusantara, Kecamatan Bintan Timur.

Bau tak sedap menyebar sampai radius beberapa ratus meter. Bahkan menyebar sampai ke Tanjungpinang. Warga seperti dipaksa menghirup bau karet yang sudah cukup lama berdiri.

Baca: Dikenal Tangguh, Inilah Keistimewaan 5 Mata-mata Perempuan Rusia Paling Terkenal Masa Perang

Baca: Simak! Inilah Kumpulan Lengkap Contoh Soal Tes CPNS 2018, Unduh dan Baca Syarat-syaratnya

Baca: Kapal Pengangkut Emas Senilai Rp 1.600 Triliun Sengaja Ditenggelamkan Ketemu, Begini Emasnya!

Baca: Terungkap! Kesaksian Juru Masak: Inilah Makanan Pantangan Pak Harto dan Bu Tien Semasa Hidup

Tak tahan dengan bau yang bertahun tahun dihirup, warga pun komplain. Pada Senin (23/7/2018), komisi I DPRD Bintan menyidak PT Pulau Bintan Djaya, pabrik karet remah (rumb rubber factory) di Km 16 Jalan Nusantara Kijang

yang dianggap sumber bau tak sedap. DPRD ingin melihat langsung bagaimana perusahaan karet tersebut mengelola pabrik karet remah mereka.

"Jujur, kami pun merasa tak sedap sama bau yang ditimbulkan dari olahan karet di perusahaan ini," kata Ketua Komisi I DPRD Bintan M Yatier saat sidak di lokasi perusahaan.

Menurut Daeng, bau getah karet perusahaan PT Pualau Bintan Djaya perlu ditangani serius sebab sudah lama mengganggu rasa kenyamanan hidup warga. Komisi I meminta ke perusahaan agar membuat langkah penanganan dampak.

"Bayangkan saja, bau karet di perusahaan ini bisa sampai menjangkau Dompak (Tanjungpinang)," kata Daeng.

Amatan Tribun, posisi PT Bintan Djaya saat ini berada persis di tengah tengah perkampungan. Wilayahnya diapit permukimn warga. Sebetulnya, perusahaan tersebut sudah lama berdiri dan saat berdiri wilayah di sekitarnya masih rimbun

alias masih jarang permukiman. Seiring perkembangan penduduk dan bertambahnya sejumlah hunian, posisi perusahaan pun kini di tengah perkampungan penduduk.

Lokasi pabrik pengolahan karet di Jalan Nusantara KM 16 Kijang
Lokasi pabrik pengolahan karet di Jalan Nusantara KM 16 Kijang (tribunbatam/aminnudin)

Karena lokasinya sudah dikelilingi perumahan, maka Komisi I DPRD Bintan meminta perusahaan melakukan penanganan ekstra agar dampak industri tidak mengganggu. Selain bau, limbah hasil olaham juga turut disorot.

"Limbah hasil olahan karet di sini juga jadi atensi (perhatian) kita," kata Daeng M Yatir. Dikonfrimasi terpisah, pihak manajemen PT Pulau Bintan Djaya menyampaikan,

persoalan limbah dan bau yang jadi bahan sidak DPRD Bintan sebetulnya sudah lama menjadi catatan mereka. Pihaknya jujur tak menganggap remeh masalah tersebut.

Menurut manajemen, posisi struktur manajerial perusahaan saat ini sedang berganti. Manajerial baru sudah menyiapkan langkah mengurangi dampak kegiatan industri karet yang dikeluhkan warga.

"Dengan adanya sidak anggota dewan sebenarnya kita gak ada problem. Kita open, kita paham di sekiling kita ada masyarakat, "kata Wahyu, perwakilan perusahaan. (*)

Penulis: Aminnudin
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved