BI Prediksi Defisit Transaksi Berjalan Tahun Ini Naik Jadi Rp362,5 Triliun

Defisit ini lebih besar dari 2017 lalu yang mencapai 17,53 miliar dolar AS atau 1,73 persen dari PDB.

BI Prediksi Defisit Transaksi Berjalan Tahun Ini Naik Jadi Rp362,5 Triliun
Istimewa
Ilustrasi defisit anggaran 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA- Bank Indonesia (BI) memproyeksi defiist transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) pada tahun ini sebesar 25 miliar dolar AS atau sekitar Rp362,5 triliun.

Defisit ini lebih besar dari 2017 lalu yang mencapai 17,53 miliar dolar AS atau 1,73 persen dari PDB.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara mengatakan, CAD yang diproyeksi sebesar 25 miliar dolar AS masih aman, yakni di bawah 3 persen dari PDB.

“Tahun ini CAD 25 miliar dolar AS atau mungkin lebih. Itu kan harus ada modal yang masuk dalam bentuk PMA, portofolio, dan utang luar negeri,” ucap Mirza di Gedung DPR RI, Rabu (25/7/2018).

Ia melanjutkan, untuk membiayai CAD ini, maka butuh modal masuk.

Perhatian BI untuk jangka pendek ini adalah modal masuk terutama ke portofolio.

Itulah, menurut Mirza, yang menjadi alasan BI mereaktivasi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang sudah dilelang pada Senin lalu.

Baca: Begini Jurus Pemerintah Tangani Defisit Anggaran BPJS Kesehatan

Baca: BPJS Kesehatan Defisit Lagi, Sri Mulyani Minta BPKP Audit Semua Klaim 6 Bulan Terakhir

Baca: BPS Ungkap Data Neraca Perdagangan Indonesia Defisit 1,63 Miliar Dolar AS Selama April

“Selama ini bank pakai SDBI, sekarang BI buka SBI. SBI ini boleh dibeli asing sementara SDBI tidak boleh. Jadi, harapannya dengan begitu seminggu kemudian bank itu jual ke investor asing. Ada instrumen lain yang kami sediakan untuk investor masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Asal tahu saja, berdasarkan hasil lelang SBI tenor 9 dan 12 bulan Senin (23/7) lalu, porsi yang dieksekusi adalah Rp 4.180 miliar untuk SBI 9 bulan dan Rp 1.795 miliar untuk SBI 12 bulan.

Sementara, RRT pemenang tercatat sebesar 6,04 persen untuk 9 bulan dan 6,17 persen untuk 12 bulan.

Sementara, dari segi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), Mirza mengatakan bahwa situasinya pada tahun ini berbeda dengan tahun lalu.

Sebab, tahun ini netkeluar di portofolio lebih besar. Tahun lalu, NPI mencatatkan surplus 12 miliar dolar AS.

“Pasar saham kan netnya masih negatif. Kalau pasar SBN sudah mulai masuk lagi tapi ya kami harap masuknya bisa lebih banyak. Kalau situasi lebih stabil portofolio bisa lebih banyak,” ucapnya. (kontan)

Editor: Sri Murni
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved