Mengapa Anda Merasa Banyak Masalah dalam Hidup? Beginilah Cara Unik Otak Mendefenisikannya

Kenapa banyak masalah dalam hidup rasanya terus-terusan muncul, betapapun kita bekerja keras untuk menyelesaikannya?

Mengapa Anda Merasa Banyak Masalah dalam Hidup? Beginilah Cara Unik Otak Mendefenisikannya
monsitj
Ilustrasi 

Untuk menguji hipotesis ini, periset melakukan eksperimen terakhir.

Mereka meminta sukarelawan untuk membaca berbagai penelitian saintifik, dan memilih mana studi yang etis dan yang tidak etis.

Jika masalah atau bahaya rasanya tidak pernah pergi, mungkin itu karena otak kita terus mengubah cara kita mendefinisikannya.

Periset merasa skeptis bahwa mereka akan menemukan inkonsistensi yang sama dalam penilaian ini, seperti yang kami temukan dalam penelitian tentang warna dan ancaman.

Penilaian moral, menurut mereka, akan lebih konsisten seiring waktu daripada penilaian lainnya.

Bagaimanapun, jika Anda berpikir bahwa kekerasan itu salah pada hari ini, Anda seharusnya masih berpikir bahwa itu salah esok hari, terlepas dari banyak atau sedikitnya kekerasan yang Anda lihat pada hari itu.

Tapi ternyata ini keliru. Periset menemukan pola yang sama.

otak
otak 

Ketika kami menunjukkan semakin sedikit penelitian tidak etis seiring waktu, mereka mulai menyebut semakin banyak studi sebagai tidak etis.

Dengan kata lain, hanya karena mereka membaca lebih sedikit studi yang tidak etis, penilaian mereka akan studi yang etis dan yang tidak etis menjadi lebih ketat.

Perbandingan konstan

Kenapa orang menemukan banyak hal yang mengancam justru ketika ancaman semakin jarang?

Riset psikologi kognitif dan neurosains menunjukkan bahwa perilaku seperti ini adalah konsekuensi dari cara otak kita memproses informasi.

Kita terus membandingkan apa yang ada di hadapan kita dengan apa yang terjadi sebelumnya sebagai konteks.

Alih-alih memutuskan dengan cermat seberapa berbahayakah suatu wajah dibandingkan wajah-wajah lain, misalnya, otak kita menganalisis seberapa berbahayakah ia dibandingkan wajah-wajah lain yang dilihatnya sebelumnya—atau membandingkannya dengan beberapa wajah yang baru-baru ini dilihat, atau wajah paling berbahaya dan paling tidak berbahaya yang pernah dilihat.

Perbandingan semacam ini dapat secara langsung menuntun pada pola yang ditemukan dalam eksperimen: ketika wajah yang mengancam menjadi jarang, wajah baru akan dinilai secara relatif dibandingkan wajah-wajah yang kebanyakan tidak mengancam.

Di antara wajah yang biasa saja, bahkan wajah yang sedikit mengancam pun bisa kelihatan seram.

Apakah Anda menganggap wajah ini 'mengancam' atau 'tidak berbahaya' lebih bergantung pada hal-hal lain yang Anda lihat baru-baru ini, daripada wajah itu sendiri. Foto: Getty Images

Ternyata bagi otak Anda, perbandingan relatif membutuhkan lebih sedikit energi daripada pengukuran absolut.

Bayangkan saja betapa lebih gampangnya mengingat siapa sepupu Anda yang paling tinggi daripada tinggi badan setiap sepupu secara tepat.

Otak manusia mungkin telah berevolusi untuk menggunakan perbandingan relatif dalam banyak situasi karena perbandingan ini kerap menyediakan informasi yang cukup untuk menavigasi lingkungan kita dengan aman dan membuat keputusan, dengan usaha sesedikit mungkin.

Kadang-kadang, penilaian relatif sudah cukup. Jika Anda mencari restoran mewah, misalnya, apa yang dianggap 'mewah' di Paris, Texas, akan berbeda dibandingkan di Paris, Prancis.

Kelompok riset saya sekarang tengah melakukan penelitian lanjutan di laboratorium untuk mengembangkan intervensi yang lebih efektif dalam melawan konsekuensi tak diinginkan dari penilaian relatif.

Salah satu strategi yang mungkin ampuh: ketika Anda membuat keputusan yang membutuhkan konsistensi, definisikan kategori Anda sejelas mungkin.

Jadi jika Anda bergabung dengan program ronda, misalnya, cobalah menulis apa saja perbuatan yang dianggap sebagai pelanggaran sebelum Anda mulai meronda.

Jika tidak, Anda mungkin saja akan menghubungi polisi hanya karena mendapati anjing berkeliaran tanpa tali anjing.

Tapi ada lebih banyak situasi problematik, seperti petugas ronda yang, dengan penilaian relatif, akan terus memperluas konsep 'kejahatan' untuk mencakup pelanggaran yang lebih ringan.

Sebagai hasilnya, mereka mungkin tidak akan sepenuhnya mengapresiasi kesuksesan mereka dalam membantu mengurangi masalah yang mereka khawatirkan.

Dari diagnosis medis sampai investasi finansial, manusia modern harus membuat banyak pertimbangan rumit yang membutuhkan konsistensi.

Tapi bagaimana caranya supaya orang bisa membuat keputusan yang lebih konsisten ketika dibutuhkan? Jawabannya perlu kita cari bersama. (bbc Indonesia)

Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help