Angka Cerita

Inilah 4 Kisah Inspiratif di Balik Uang Recehan. Nomor 3 Berangkat Haji Bermodal Receh

Inilah kisah inspiratif 'The Power of Receh, dari bantu orangtua berobat hingga berangkat haji!

Inilah 4 Kisah Inspiratif di Balik Uang Recehan. Nomor 3 Berangkat Haji Bermodal  Receh
Kompas.com/dokumentasi Andi Setyawan
Warga menghitung uang tabungan Mbah Legi terdiri pecahan koin dan uang di Dusun Dipan, Desa Troketan, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah 

TRIBUNBATAM.ID-Menabung uang receh selama bertahun-tahun bukanlah hal mudah. Butuh kesabaran ekstra dan komitmen yang kuat di tengah budaya konsumerisme yang tumbuh di masyarakat.

Nah, Kompas.com memilih empat kisah kebiasaan menabung oleh sejumlah orang di beberapa daerah di Indonesia. "The power of receh" adalah nyata.

Baca: Planet Mars Bakal Nongol, Hujan Meteor Hiasi Gerhana Bulan Total 28 Juli

Baca: Ahmad Dhani dan Mulan Jameela Resmi Ganti Nama Lewat Pengadilan, Ini Nama Barunya

Baca: Inilah Trik Foto Momen Gerhana Bulan saat Berwarna Merah Darah dengan Ponsel

Baca: Inilah Kisah Mata Hari, Mata-mata Cantik Keturunan Jawa yang Mengguncang Eropa!

1. Kakek sebatang kara di Klaten menabung recehan hingga mencapai Rp 14,5 juta

Warga menghitung uang tabungan Mbah Legi terdiri pecahan koin dan uang di Dusun Dipan, Desa Troketan, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah
Warga menghitung uang tabungan Mbah Legi terdiri pecahan koin dan uang di Dusun Dipan, Desa Troketan, Kecamatan Pedan, Klaten, Jawa Tengah (Kompas.com/dokumentasi Andi Setyawan)

Mbah Legi adalah salah satu warga RT 003 RW 002, Desa Kroketan, Pedan, Klaten, Jawa Tengah.

Kakek sebatang kara itu sudah puluhan tahun tinggal bersama warga Desa Kroketan. Tak banyak yang tahu sejarah keluarga Mbah Legi, warga hanya mengenal Mbah Legi sebagai sosok pekerja keras dan senang membantu.

Hidupnya jauh dari kata mewah, Mbah Legi hanya tinggal di gubuk berukuran sekitar 3x4 meter yang dibangun di atas tanah kas desa.

Untuk bertahan hidup, Mbah Legi sering diminta warga untuk membantu mencari pakan ternak, membersihkan halaman atau makam desa.

Kadang sejumlah warga memberi upah untuk jerih payah Mbah Legi tersebut. Namun tak disangka oleh warga Kroketan, uang yang didapat dari warga ternyata ditabung oleh Mbah Legi.

Mbah Legi menyimpan uang-uang miliknya di kantong plastik, ember, lipatan baju, kotak kayu yang ada dirumahnya. Jumlahnya cukup banyak, yaitu Rp 14,5 juta.

Hal tersebut terungkap saat para tetangga membongkar rumah Mbah Legi karena lahan kas desa tersebut hendak dibangun gudang perkakas desa. Warga juga berinisiatif untuk membuatkan sebuah kamar bagi Mbah Legi.

Saat itulah warga menemukan uang receh, baik koin atau kertas, yang disimpan kakek renta yang usianya sekitar 90 tahun itu di dalam rumahnya.

"Uang hasil kerja kerasnya itu mungkin Mbah Legi tabung," kata Andy Setyawan, kepada Kompas.com, pada hari Rabu (25/7/2018).

"Pembongkaran rumah Mbah Legi dilakukan Minggu kemarin. Rencana mau dibuat gudang perkakas dan dibuatin kamar sendiri buat Mbah Legi," kata Andy.

2. Tabungan receh untuk membayar seragam sekolah

002

Anda mungkin masih ingat dengan sosok seorang remaja bernama Eka Duta Prasetya (16) asal Kota Magelang, Jawa Tengah. Fotonya saat hendak membayar seragam sekolah dengan uang recehan sempat viral di media sosial.

Di dalam foto itu, sejumlah guru yang menjadi panitia penerimaan siswa baru sedang menghitung uang recehan milik Duta, pada hari Selasa (20/6/2017).

Duta menceritakan, uang recehan tersebut dia kumpulkan sejak masih duduk kelas 6 SD dan saat itu terkumpul sejumlah Rp 1,5 juta.

Awalnya, Duta ingin menggunakan uang tersebut untuk membeli laptop, namun sang ayah, Agung Prasojo, menyarankan untuk membayar uang seragam saat masuk sekolah.

Akhirnya Kegigihannya tersebut membuat pihak sekolah membebaskan Duta dari biaya seragam dan diterima menjadi siswa MAN I Payaman, Magelang di jurusan jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

Duta tinggal bersama ayah yang bekerja sebagai tukang parkir di RS Tentara dr Soedjono Kota Magelang. Sedangkan ibunya, Tatik (37), sudah lama berpisah dengan ayahnya dan sudah memiliki keluarga baru di Bandung, Jawa Barat.

3. Menabung untuk berangkat haji

003

Saat ada niat, maka akan ada jalan. Itulah ungkapan yang pas bagi Safuan Azis (64), seorang tambal ban asal Kelurahan Mangunharjo RT 002 RW 002, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Safuan dan isterinya, Musharofah, akhirnya bisa meraih impian mereka untuk naik haji. Mereka berdua tercatat di Kloter 70 Kota Semarang dan akan berangkat pada 6 Agustus 2018 nanti dari Embarkasi Donohudan.

Safuan menceritakan, pada tahun 2008 dirinya dan isterinya, mulai menabung untuk biaya menunaikan ibadah haji. Sedikit demi sedikit uang dari hasil kios tambal ban dan bensin eceran miliknya ditambah upah isterinya yang bekerja di pabrik, mulai terkumpul.

Pada tahun 2011, dengan membawa uang Rp 50 juta, sebagian dari hasil menjual sepeda motor miliknya, Safuan mendaftarkan untuk naik haji baginya dan isteri tercintanya.

"Tahun 2011, kami mendaftar dengan uang tabungan Rp 50 juta. Setelah 7 tahun menunggu, kami akhirnya berangkat," ujar Safuan, saat ditemui di tempat kerjanya, Rabu (25/7/2018).

4. Menabung receh di galon, pasangan suami isteri di Mojokerto dapat Rp 60 juta

004

Indah pada waktunya, itulah mungkin ungkapan yang pas bagi keluarga pasangan suami isteri di Mojokerto, Moh Zaka (31) dan Agustine Wirastianingsih (31).

Mereka mungkin tidak menyangka bahwa jumlah uang receh mereka kumpulkan selama 5 tahun telah mencapai Rp 60 juta.

Maksud hati tidak ingin membongkar 12 galon uang receh milik mereka, namun pada akhir 2017, Zaka mendapat kabar bahwa rumah ibundanya di Palembang terbakar.

Selain itu, Zaka harus segera membayar uang kontrakan agar pemilik rumah tidak menjual rumah yang ditempati Zaka dan keluarganya.

Penghasilan Zaka sebagai penjual pulsa, terasa berat untuk membayar tagihan sewa dan membantu ibundanya. Oleh karena itu, Zaka memutuskan untuk membongkar 10 galon dari 12 galon tabungan recehannya.

"Jadi saya mau enggak mau buka saja, ada 10 galon. Yah, namanya rezeki dari Allah pasti ada saja kan. Awalnya saya mikir begitu ya. Ternyata saya sama sekali enggak nyangka, totalnya Rp 60 juta," ujar Zaka.

Zaka pun langsung mengirimkan sebagian besar uang tabungannya ke sang ibunda yang sedang berduka. Sisanya, ia gunakan untuk melunasi biaya kontrakan selama beberapa bulan dan untuk membiayai sekolah dua anaknya. (*)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Jangan Abaikan Uang Recehan, 4 Orang Ini Buktikan Manfaatnya

Tags
uang receh
Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved