Tim WFQR Amankan Kapal Berbendera Djibouti Tanpa Dokumen, ABK Warga Myanmar

Tim WFQR Lanal Batam mengamankan Kapal Phyllis SC4471J pembawa sayur dan daging babi di perairan Selat Malaka, pada 13 Juli 2018

Tim WFQR Amankan Kapal Berbendera Djibouti Tanpa Dokumen, ABK Warga Myanmar
TRIBUNBATAM/EKO SETIAWAN
Panglima Koarmada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono melihat kapal Kapal Phyllis SC4471J yang ditangkap Tim WFQR Lanal Batam, usai ekpos, Jumat (27/7/2018) 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Tim WFQR Lanal Batam mengamankan Kapal Phyllis SC4471J pembawa sayur dan daging babi di perairan Selat Malaka, pada 13 Juli 2018.

Dalam tangkapan ini, polisi mengamankan tiga anak buah kapal (ABK) dan satu orang nahkoda.

Kapal tersebut ditangkap karena masuk ke perairan Indonesia tanpa dokumen resmi.

Baca: Chiyo Miyako, Manusia Tertua di Dunia yang Terkenal Cerewet Ini Wafat di Usia 117 Tahun

Baca: Kontingen Pesperawi Kepri Targetkan Emas, Mereka Juga Bawa Batik Gonggong dan Kuliner Melayu

Baca: Persija vs Bhayangkara FC - Sama-sama On Fire! Kick Off Pukul 18.30 WIB. Live Streaming Indosiar

Panglima Koarmada I Laksamana Muda TNI Yudo Margono dalam ekspos di Mako Lanal Batam, Jumat (27/7/2018) siang mengatakan, kapal yang diamankan tersebut berbendera Djibouti, sebuah negara di Afrika Timur.

Namun, saat diperiksa awak kapal mengaku kapal mereka milik Singapura.

"Banyak keganjilan saat pemeriksaan. Mereka mengaku kapal ini berasal dari Singapura, namun semua ABK orang Myanmar," kata Yudo.

Di dalam kapal ada beberapa dokumen kapal dari beberapa negara, namun semua dokumen tersebut sudah kedaluwarsa.

"Makanya banyak keganjilan. Kita masih melakukan penyelidikan. Karena barang yang dibawa hanya sayuran, daging dan minuman. Tetapi mereka punya banyak dokumen," sebut Yudo.

Sementara itu Danlanal Batam Kolonel Laut (E) Iwan Setiawan mengatakan kecurigaan anggota Lanal membawa mereka untuk menjalani tes urin, dan hasilnya, nahkoda kapal positif menggunakan metametamin alias narkoba.

"Kita juga menggunakan Anjing Pelacak untuk memeriksa kapal. Tetapi tidak ditemukam narkoba. Pengakuannya, mereka hanya menyuplai makanan di tengah laut. Tetapi kami masih selidiki," ujarnya.

Iwan mengatakan, pihak penyidik sudah mengrimkan Surat Perintah Dimulainya Pemeriksaan (SPDP) kepada kejaksaan. 

"Kita nggak mau berlama-lama dalam melakukan proses, seperti biasa SPDP sudah kita kirimkan," katanya.

Para tersangka ini dikenakan UU Pelayaran Pasal 284 No 2 Tahun 2018 dengan ancaman hukuman Maksimal 5 tahun penjara.(koe)

Penulis: Eko Setiawan
Editor: nandrson
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved