BI Rate Naik Agresif, Penurunan Keuntungan Bayangi Perbankan Indonesia

Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang agresif di paruh pertama tahun ini bagai buah simalakama bagi emiten perbankan.

BI Rate Naik Agresif, Penurunan Keuntungan Bayangi Perbankan Indonesia
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG
Rupiah 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA- Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang agresif di paruh pertama tahun ini bagai buah simalakama bagi emiten perbankan.

Mengingat, jika kenaikan bunga deposito tak beriringan dengan kenaikan bunga kredit, margin bersih bank atau net interest margin (NIM) akan tertekan.

Bank-bank berkapitalisasi jumbo pun tak luput dari risiko ini.

Pada musim laporan keuangan semester-I 2018, sejumlah bank besar mengalami penurunan NIM.

Di antaranya Bank Mandiri (BMRI). NIM bank ini turun dari 5,88 persen menjadi 5,7 persen. NIM Bank Central Asia (BBCA) juga turun dari 6,3 persen menjadi 6 persen.

Untungnya, bank-bank besar tersebut masih mampu membukukan pertumbuhan laba.

Kenaikan laba bersih terbesar dicetak BMRI, yang tumbuh sekitar 28,69 persen menjadi Rp 12,18 triliun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Taye Shim menilai perbankan bakal berupaya memperkecil biaya dana (cost of fund) dengan meningkatkan rasio simpanan dana murah atawa current account and saving account (CASA).

Baca: BI Rate Sudah Naik 3 Kali, Astra Finance Masih Pertahankan Bunga Kredit Lama

Baca: BI Rate Dipertahankan 5,25 Persen. Ini Penjelasan Gubernur BI

Baca: BI Pertahankan BI Rate 6,5 Persen Bikin Rupiah Terdongkrak

Namun, di sisi lain, pemberian imbal hasil untuk simpanan masih akan menekan margin, sehingga bergerak datar di paruh kedua tahun ini.

Taye menyebut pendapatan perbankan dari penyaluran pinjaman mengalami penurunan sejak awal tahun ini, lantaran persaingan yang ketat di tengah permintaan kredit yang melambat.

Halaman
123
Editor: Sri Murni
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved