Kemarau Ekstrim Landa Daerah Sentra Beras, Harga pun Mulai Naik. Buwas: Stok Bulog Berlimpah

Kemarau yang terbilang ekstrem melanda sejumlah sentra produksi beras di tanah air. Alhasil, harga beras pelan-pelan menanjak.

Kemarau Ekstrim Landa Daerah Sentra Beras, Harga pun Mulai Naik. Buwas: Stok Bulog Berlimpah
WARTAKOTA
Ilustrasi 

Budi Waseso mengatakan, Perum Bulog sudah siap menghadapi kemarau panjang yang berpotensi besar mengganggu produksi di daerah-daerah penghasil beras.

Saat ini, stok beras di gudang BUMN logistik tersebut masih banyak, total mencapai 2,2 juta ton.

Bahkan, ia mengklaim, gudang Bulog khususnya di Jawa sudah tidak cukup lagi menampung beras.

"Di daerah kan penyerapan juga tinggi termasuk gudang-gudang di wilayah mulai penuh. Nah, ini artinya, kami siap menghadapi kekeringan itu," tegas Budi Waseso.

Untuk menghadapi kekeringan, Budi Waseso yang akrab disapa Buwas memprediksikan, kebutuhan beras untuk operasi pasar paling tinggi sebanyak 500.000 ton.

Karena itu, dia optimistis angka itu terpenuhi.

Mengutip data infopangan.jakarta.go.id, harga beras jenis IR42 per 3 Agustus 2018 rata-rata Rp 12.152 per kilogram (kg) dan paling tinggi Rp 14.500 per kg.

Sementara harga beras Setra I/premium rata-rata Rp 12.486 per kg dan tertinggi Rp 15.000 per kg. Harga beras rata-rata naik Rp 50 per kg dari hari sebelumnya.

Sementara data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, rata-rata harga beras sebelum dan sesudah Lebaran hingga Jumat (3/8) stabil di kisaran Rp 11.650-Rp 11.700 per kg.

Itu sebabnya, inflasi Juli yang berlari sejauh 0,28 persen tanpa ada andil beras.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kelompok bahan makanan yang mengalami inflasi paling tinggi yakni 0,86 persen, penyumbang terbesarnya adalah telur dan daging ayam ras.

Inflasi telur dan daging ayam ras selama Juli masing-masing sebesar 0,08 dan 0,07 persen.

 (kontan/Sinar Putri S.Utami) 

Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help