Dampak Penggalian Pasir Ilegal, Debit Air di Dam Tembesi Berkurang

Sekarang di dam itu sudah terjadi sedimentasi. Debit air di dam berkurang, sedangkan air di dam belum dioperasionalkan

Dampak Penggalian Pasir Ilegal, Debit Air di Dam Tembesi Berkurang
tribunbatam/istimewa
kerusakan lingkungan akibat aktivitas penggalian pasir ilegal di Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandara Hang Nadim, Batam, Selasa (14/8/2018). 

TRIBUNBATAM.id, BATAM-Direktorat Pengamanan Badan Pengusahaan (BP) Batam meminta instansi terkait memberikan perhatian lebih serius. Itu menyikapi masalah penggalian pasir ilegal yang terjadi di sejumlah tempat di Batam. Lantaran akan berdampak pada kerusakan lingkungan.

Penggalian pasir ilegal di kawasan tangkapan air Dam Tembesi, contohnya. Kasi Hutan dan Patroli Direktorat Pengamanan BP Batam, Willem Sumanto mengatakan, aktivitas tersebut kini sudah berdampak langsung pada kerusakan parah di dam.

"Sekarang di dam itu sudah terjadi sedimentasi. Debit air di dam berkurang, sedangkan air di dam belum dioperasionalkan," kata Willem kepada wartawan, Selasa (14/8).

Baca: RESPEK! Warga Palestina Tetap Senang Jika Timnas U23 Indonesia Kalahkan Palestina, Mereka Saudara

Baca: Diduga Tidak Miliki Manifest dan SIB, Patroli BC Amankan Kapal Muatan Timah

Baca: Truk Bermuatan Barang di Tanjungpinang Tersangkut di Pembatas Jalan

Dam Tembesi sendiri ditargetkan memiliki kapasitas produksi air 600 meter kubik per detik. Dan diperuntukan menyuplai kebutuhan air bersih bagi masyarakat di Tanjunguncang dan Sekupang.

Belum lagi dam itu beroperasional, kini sudah dihadapkan pada masalah sedimentasi.

"Kerusakannya sudah cukup parah. Makanya kami ajak instansi terkait memberikan perhatian lebih. Ayo sama-sama kita atasi (penggalian pasir ilegal)," ujarnya.

Selain di kawasan tangkapan air Dam Tembesi, aktivitas penggalian pasir ilegal juga terjadi di Kawasan Keselamatan Operasional Penerbangan (KKOP) Bandara Hang Nadim Batam.

Bekas penggalian pasir itu kini membentuk kubangan besar. Kerusakan lingkungan di sana sudah mencapai 60 persen dari luasan KKOP.

KKOP sendiri memiliki luas kurang lebih 200 hektare. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk menghentikan aktivitas penggalian pasir tersebut. Lantaran bisa mengancam kultur tanah di KKOP.

"Karena KKOP itu harus bebas dari segala aktivitas. Jadi masyarakat tak boleh melakukan kegiatan penambangan pasir di sana. Misal ada perluasan landasan pacu, akan berpengaruh pada aktivitas penerbangan," kata Willem.

Dengan kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki, pihaknya juga berupaya menghentikan aktivitas penggalian pasir ilegal tersebut. Yakni dengan mengamankan barang bukti, kemudian melimpahkannya ke kepolisian dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

"Dalam waktu dekat, kami dengan instansi terkait juga berencana melakukan penertiban. Dari penyidik juga menyiapkan langkah-langkah selanjutnya," ujarnya. (wie)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help