Batam Terkini

Belakangpadang Jadi Tempat Uji Coba Pelayanan Air. DCKTR Soft Launching SCADA

Untuk mengatasi permasalahan pelayanan air di hinterland, DCKTR membuat terobosan, yakni membuat sistem pelayanan air yang lebih baik

Belakangpadang Jadi Tempat Uji Coba Pelayanan Air. DCKTR Soft Launching SCADA
TRIBUNBATAM/DEWI HARYATI
Soft launching SCADA untuk pelayanan air di Belakangpadang ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Wali Kota Batam, Rudi, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, Suhar, dan beberapa pimpinan OPD di lingkungan Pemko Batam 

TRIBUNBATAM.id, BATAM- Tingkat kebocoran air bersih di hinterland saat ini masih tinggi. Yakni sebesar 35 persen. Sementara pengaduan masyarakat terkait pelayanan air yang masuk, diakui masih lambat. Karena masih menggunakan cara manual.

Di sisi lain, biaya produksi pun sama, masih tinggi. Nah, untuk mengatasi ketiga permasalahan pelayanan air di hinterland ini, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Batam membuat terobosan, yakni membuat sistem pelayanan air yang lebih baik.

Kemarin, DCKTR melakukan soft launching SCADA (Supervisory Control And Data Acquisition) di Belakangpadang. Tepatnya di Dataran Langlang Laut. Belakangpadang menjadi tempat ujicoba penerapan sistem pelayanan air ini.

Baca: Timnas U23 Indonesia, dari Kaki Emas Beto hingga Evan Dimas Sang Metronom

Baca: Asian Games 2018 - Timnas U23 Indonesia Menang di Hari Kemerdekaan, Beto: Ini Hari Spesial

Baca: Timnas U23 Indonesia vs Laos - Evan Dimas Raja Operan

"Kami berharap SCADA ini bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat ke depannya," kata Kepala DCKTR, Suhar, Jumat (17/8/2018).

Ia mengatakan, semula SCADA biasa dipakai untuk industri yang luasannya cukup besar. Seperti pengeboran minyak. Kemudian seiring waktu, SCADA berkembang ke proses-proses yang lebih sederhana. Salah satunya di sistem pengairan. Dengan sistem ini permasalahan di bidang pelayanan air bisa dicek realtime oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

"Insya Allah mulai hari ini, sistem SCADA akan diterapkan di unit produksi WTP (water treatment plant) Belakangpadang. Dengan sistem ini seluruh proses dalam pengelolaan air bersih di Belakangpadang bisa dikontrol dalam satu layar secara auto," ujarnya.

Target utama dalam penerapan sistem ini, yakni untuk menekan angka kebocoran air. Meskipun diakuinya cara yang sudah dilakukan Adhya Tirta Batam (ATB) untuk mencegah kebocoran jauh lebih baik, namun paling tidak dengan sistem SCADA bisa menekan angka kebocoran air di hinterland yang masih tinggi. Selain itu juga untuk menekan biaya produksi.

"Sebenarnya salah satu komponen biaya ini adalah tenaga. Dengan adanya SCADA, tidak perlu banyak lagi. Tenaga yang ada bisa kita distribusikan ke tempat lain," kata Suhar.

Ia melanjutkan, saat ini ada lebih kurang 23.000 jiwa masyarakat di tiga kecamatan pulau penyangga (hinterland) yang terlayani air bersih. Mereka tersebar di 19 lokasi di Kecamatan Belakangpadang, Bulang, dan Galang. Ke depan, pihaknya komitmen untuk meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat di hinterland.

"Saat ini sistem SCADA baru bisa kita terapkan untuk produksi. Mudah-mudahan ke depan bisa dikembangkan untuk distribusi, dan sambungan ke rumah, dan pengembangan lainnya," ujarnya. (wie)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help