Gugat Cerai Istri, Suami di Karanganyar Bayar Rp 153 Juta Pakai Koin. Begini Kejadiannya

Seorang PNS di lingkungan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah menghebohkan Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Karanganyar

Gugat Cerai Istri, Suami di Karanganyar Bayar Rp 153 Juta Pakai Koin. Begini Kejadiannya
KOMPAS.com/Sutarto
Kuasa hukum Dwi Susilarto, Sutarto, menunjukkan uang mutah dan nafkah yang dibayarkan kliennya setelah gugatan cerainya dikabulkan di Pengadilan Agama Karanganyar, Kamis (23/8/2018) 

TRIBUNBATAM.ID, KARANGANYAR-Seorang PNS di lingkungan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah menghebohkan Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Karanganyar.

Dwi Susilarto (54) membayarkan uang nafkah dan mut'ah dengan pecahan koin senilai Rp 153 juta kepada mantan istrinya, Hermi Setyowati, setelah gugatan cerainya dikabulkan pengadilan agama.

Baca: Isu Pelengseran Presiden Amerika Menguat, Pendukung Trump Ancam Bakal Ada Pemberontakan

Baca: Negara Ini Dulu Kaya Berkat Hasil Minyak Bumi, Kini di Ambang Kebangkrutan: Venezuela

Baca: Inilah 5 Fakta Kasus Pungli SIM yang Menjerat Kapolres Kediri, Segini Setoran Punglinya Per Minggu

Baca: Kasus Pemerkosaan Keji Gemparkan Maroko, Pelaku Tato Sekujur Tubuh Korban. Begini Kejadiannya

"Klien kami kemarin membayarkan uang mut'ah Rp 178 juta dengan rincian uang koinnya Rp 153 juta. Sisanya Rp 25 juta menggunakan uang kertas di Pengadilan Agama Karanganyar," kata Sutarto, kuasa hukum Dwi Susilarto kepada Kompas.com, Jumat ( 24/8/2018) siang.

Dwi membayarkan uang mut'ah dan nafkah itu kepada mantan istrinya setelah Pengadilan Tinggi Agama Semarang menerima gugatan kliennya.

Hanya saja besaran uang mut'ah yang harus dibayarkan kliennya lebih besar dari putusan majelis hakim tingkat pertama di Pengadilan Agama Kabupaten Karanganyar.

Menurut Sutarto, saat di Pengadilan Agama Kabupaten Karanganyar, hakim memutuskan kliennya wajib memberikan uang mut'ah kepada mantan istrinya sebesar Rp 43 juta.

Tak terima dengan putusan itu, Hermi mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama di Semarang. Hasil banding, kata Sutarto, kliennya diharuskan membayar biaya mut'ah sebesar Rp 178 juta.

Kuasa hukum Dwi Susilarto, Sutarto, menunjukkan uang mutah dan nafkah yang dibayarkan kliennya setelah gugatan cerainya dikabulkan di Pengadilan Agama Karanganyar, Kamis (23/8/2018)
Kuasa hukum Dwi Susilarto, Sutarto, menunjukkan uang mutah dan nafkah yang dibayarkan kliennya setelah gugatan cerainya dikabulkan di Pengadilan Agama Karanganyar, Kamis (23/8/2018) (KOMPAS.com/Sutarto)

Jumlah itu naik hampir 400 persen dibanding putusan hakim di Pengadilan Agama Karanganyar. Terhadap putusan itu, kliennya menerima dan berusaha membayarkan biaya mut'ah dengan cara berhutang dan meminta bantuan kepada keluarga dan teman-temannya.

Hasilnya, uang senilai Rp 178 juta terkumpul setelah satu setengah bulan dikumpulkan kliennya. "Kemarin ada sekitar 13 karung berisi uang koin seribuan. Kata klien saya uang itu dikumpulkan dari bantuan teman-temannya dan ada dari hasil berutang," kata Sutarto.

Sutarto mengatakan, uang koin sementara masih dalam penghitungan pegawai Pengadilan Agama Karanganyar. Bila selesai penghitungan, pihak Pengadilan Agama Karanganyar akan menghubunginya untuk memastikan jumlah uang mut'ah yang disetorkan.

"Nanti kami akan dikabari dari pihak pengadilan. Kalau ada kelebihan uang akan dikembalikan. Sebaliknya kalau ada kekurangan, nanti akan ditagihkan ke kami," demikian Sutarto. (*)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Gugat Cerai Istri, Suami di Karanganyar Bayar Rp 153 Juta Pakai Koin

Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved