Benarkah Diet Rendah Carbo Tingkatkan Risiko Kematian Dini?

Diet rendah karbohidrat sudah sangat familiar dan banyak dilakukan oleh orang. Benarkah diet ini menyebabkan kematian dini?

Benarkah Diet Rendah Carbo Tingkatkan Risiko Kematian Dini?
FREEPIK.COM
Ilustrasi 

TRIBUNBATAM.id - Mereka yang sedang melaksanakan program penurunan berat badan, pasti tak asing lagi dengan yang namanya diet rendah karbohidrat.

Sesuai dengan namanya, diet ini menerapkan pembatasan pada konsumsi karbohidrat. Popularitas diet ini untuk menurunkan berat badan memang dibuktikan banyak orang.

Namun, riset dari The Lancet menemukan efek negatif dari diet ini. Berdasarkan hasil penelitian, pola konsumsi rendah karbohidrat memang bagus untuk menurunkan berat badan.

Tapi, pola diet semacam ini berbahaya bagi harapan hidup manusia. Dilansir dari Men's Health, riset dilakukan dengan meneliti 15.400 orang Amerika selama rentang waktu 25 tahun.

Riset dilakukan untuk melihat efek jangka panjang dari konsumsi karbohidrat.

Baca: Ini 5 Makanan dan Minuman yang Bisa Membantu Program Dietmu

Baca: Kisah Presiden Termiskin Dunia. Sumbang 90 Persen Gaji Untuk Rakyat dan Hidup dengan Bertani

Baca: Rupiah Masuk 10 Mata Uang Terlemah Dunia Tahun 2018. Nomor 1 Negara Mana?

Hasilnya menunjukan, mereka yang mengonsumsi karbohidrat mampu hidup empat tahun lebih lama daripada meraka yang mengonsumsi makanan rendah karbohdirat.

Riset juga menemukan mereka yang mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah sedang hidup setahun lebih lama daripada mereka yang mengonsumsi karbohidrat terlalu banyak.

Ini berarti, kita juga bisa mendapatkan efek negatif jika berlebihan mengonsumsi makanan yang mengandung zat tepung.

Periset percaya, mereka yang mempraktikan diet rendah karbohidrat lebih rendah usianya karena tidak mengonsumsi cukup buah, sayur dan biji-bijian yang juga adalah sumber karbohidrat.

Selain itu, mereka yang menghindari karbohidrat biasanya mengonsumsi daging lebih banyak. Inilah yang menyebabkan peningkatan risiko kanker dan kematian dini.

Halaman
12
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help