TANJUNGPINANG TERKINI

Dinas Kesehatan dan MUI Sosialisasi Vaksin, Berikut Penjelasannya

Sosialisasi itu gencar dilakukan agar masyarakat Kepri bisa menerima vaksin MR tersebut. Sebab, dampak tidak diterimanya vaksin ini sungguh luar biasa

Dinas Kesehatan dan MUI Sosialisasi Vaksin, Berikut Penjelasannya
TRIBUNBATAM/THOM LIMAHEKIN
Kepala Dinkes Kepri Tjetjep Yudiana, duduk bersama Sekretaris MUI Kepri Edi Syafrani dan mantan kepala SLB Riasneli, Senin (27/8/2018) 

Ibu hamil tidak bisa menerima vaksin baik campak maupun rubella. Sebab, kedua virus ini hanya menyerang rahimnya. Jadi, anak-anak yang terlahir darinya berpotensi besar sudah terkena kedua virus tersebut.

Semua dampak yang ditimbulkan oleh kedua virus itu sudah bisa terlihat saat bayi baru berusia 15 hari. Dampak tersebut sangat sulit diobati lagi. Kalau pun bisa diobati, itu membutuhkan anggaran yang begitu mahal.

"Misalnya, untuk obati mata saja, kita bisa keluarkan biaya Rp 400 juta," sebut Tjetjep.

Di tengah kedua kondisi darurat akibat dampak virus campak dan rubella, pro dan kontra mengenai kandungan zat tidak halal dalam vaksin MR menjadi polemik. Namun, polemik itu sudah diklarifikasi oleh MUI pada 20 Agustus 2018 lalu dengan memperbolehkan masyarakat menerima vaksin ini karena ada keadaan darurat.

Tjetjep menegaskan, pemberian vaksin MR itu harus dilakukan. Sebab, ada kondisi darurat ke tiga yakni hingga saat ini belum ada vaksin yang benar-benar halal. Kalaupun itu nanti ada, maka dibutuhkan waktu yang lama untuk mengadakannya.

"Sebuah penelitian menyatakan, untuk mendapatkan vaksin yang betul halal dibutuhkan butuh waktu 15-20 tahun," ungkap Tjetjep.

Nah, semenjak MUI mengeluarkan fatwa pelarangan vaksin MR pada 3 Agustus 2018 lalu, ada tiga kabupaten di Kepri yang sama sekali tidak mengizinkan warganya menerima vaksin ini. Ketiganya adalah Karimun, Bintan dan Natuna.

Namun, Tjetjep sangat berharap, dengan klarifikasi MUI tadi dan sosialisasi ke daerah-daerah nanti, vaksin tersebut bisa diterima oleh masyarakat Kepri.

"Kasih anak, cucu kita kalau terkena virus campak dan rubella. Berapa banyak generasi yang akan mengalami dampaknya nanti," ucap Tjetjep sangat prihatin. (tom)

Penulis: Thom Limahekin
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved