Perang Dagang, Dollar AS dan Yen Adu Kekuatan

Perang dagang global kemungkinan kembali memanas dengan rencana AS mengenakan tarif tinggi pada US$ 200 miliar produk impor China.

Perang Dagang, Dollar AS dan Yen Adu Kekuatan
perang dagang China vs Amerika Serikat 

TRIBUNBATAM.id - Perang dagang global kemungkinan kembali memanas dengan rencana AS mengenakan tarif tinggi pada US$ 200 miliar produk impor China. Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dengan kenaikan tarif impor membuat dollar AS melemah hampir terhadap semua mata uang utama.

Namun, pada Jumat (31/8), dollar AS mencatatkan penguatan tipis tak sampai 0,1% dalam penutupan perdagangan di hadap Jepang yen (JPY) di level 110.30.

Analis PT Rifan Financindo Berjangka, Puja Purbaya Sakti D mengatakan, meski dalam penutupan perdangan dollar AS menguat, posisi dollar saat ini sebenarnya sedang terkoreksi. Permasalahan perang dagang AS-China yang kembali memanas membuat yen saat-saat ini mengalami penguatan.

“Perang dagang membuat investor beramai-ramai memburu yen serta logam mulia yang merupakan safe haven,” katanya.

Selain kembali memanasnya perang dagang, data CPI Jepang dikatakan mengalami peningkatan. Bank of Japan (BoJ) juga dikatakan sudah merilis jadwal untuk pembelian obligasi dari pemerintah secara tiba-tiba. Hal ini di respon pasar secara positif sehingga yen pun menguat.

Di mana frekuensi pembelian untuk beberapa JGB periode 1 hingga 10-tahun diturunkan dari enam menjadi lima untuk bulan September.

Rencana Trump untuk mengenakan tarif atas barang-barang China senilai US$ 200 miliar membuat pasar mengalami ketidakpastian. Apalagi para pelaku pasar juga berusaha untuk menghindari aset yang berisiko di saat masa perang dagang seperti ini.

Baca: Rupiah Masuk 10 Mata Uang Terlemah Dunia Tahun 2018. Nomor 1 Negara Mana?

Baca: Dampak Krisis Ekonomi, Mata Uang Turki Terjun Bebas, Begini Efeknya Terhadap Rupiah

Namun menurut Puja, saat ini yen tetap masih harus dipantau karena akan dirilis beberapa data ekonomi seperti data anggaran belanja modal yang diprediksi mengalami penurunan. Jepang juga akan merilis angka indeks manufaktur (PMI).

Secara teknikal, indikator Moving Average Exponential (EMA) mengecil dengan arah kurs naik, kemudian pada Vortex Indicator (VI) dengan kondisi Blue over red yang melebar dimana arah kurs berpotensi untuk lanjutkan gain. Selanjutnya pada indikator True Strengh Indicator (TSI) berada diarea -1 yang menunjukkan kurs kurang kuat turun.

"Secara umum USD/JPY masih berpotensi untuk lanjutkan gain pada perdagangan selanjutnya," kata Puja.

Puja merekomendasikan beli untuk pairing USD/JPY selama harga di atas 111.28 dengan support 110.78-110.49-110.02 dan resistance 111.25-111.43-111.90.(*)

Editor: Agus Tri Harsanto
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help