BISNIS

Dampak Rupiah Melemah, Harga Material Properti Ikut Naik

"Tapi puncaknya itu tadi malam. Mau tak mau memang harus mengikuti," ujar Yudha kepada Tribun saat di temui di Mitra 10, Rabu (5/9/2018).

Dampak Rupiah Melemah, Harga Material Properti Ikut Naik
TRIBUNBATAM/ROMA ULY SIANTURI
Yudha Mouries Manajer Operasional Mitra 10 

TRIBUNBATAM.id, BATAM-Menguatnya mata uang dolar Amerika terhadap Rupiah membuat sektor properti di Batam kelabakan. Hampir sebagian material properti seperti barang-barang bangunan merupakan barang impor dari luar negeri.

Diantaranya misalnya granit atau keramik, closet, lampu, besi, kabel cat, baja, bed kitchen, house ware seperti kunci, dan lainnya. Barang-barang tersebut kebanyakan di impor dari China dan sebagain kecil dari Eropa.

Manajer Operasional Mitra 10, Yudha Mouries mengatakan kenaikan properti ini sudah dirasakan sejak 3 bulan lalu. Namun melihat kondisi pangsa pasar kenaikan harga dilakukan secara bertahap, satu demi satu.

"Tapi puncaknya itu tadi malam. Mau tak mau memang harus mengikuti," ujar Yudha kepada Tribun saat di temui di Mitra 10, Rabu (5/9/2018).

Kalau dari segi omset, kata dia, tidak mengalami penurunan yang signifikan masih tergolong stabil. Kenaikan harga ini juga tidak melambung tinggi dan tidak mempengaruhi daya beli masyarakat jadi menurun.

"Barang-barang bangunan ini kan bukan seperti bahan pokok makanan. Bisa jadi ditunda atau bisa dilihat dari tingkat minat masyarakat saja," katanya.

Baca: Polisi Tembak Mati Pembegal Mahasiswi STT Tekstil, Begini Kejadiannya

Baca: Dilantik jadi Gubernur, Begini Rekam Jejak Ridwan Kamil di Pilgub Jabar yang Penuh Lika-liku

Baca: Jeffry Pertanyakan Sikap Pemko yang Tetap Pertahankan Dirut BUMD

Yudha menambahkan memang sudah ada beberapa customer yang komplain. Tetapi tidak mungkin menaikkan harga bahan bangunan kalau margin tidak terkuras. Pengusaha properti tentunya tidak mau rugi dan ingin mengambil keuntungan dari setiap penjualan. Kenaikan tersebut membuat profit margin mengecil.

"Kita melihat juga pangsa pasarnya. Apakah semua merata atau tidak," katanya.

Mengantisipasi adanya banyak kerugian, pihaknya tetap berupaya agar harga bisa bersaing di pasar. Mengutamakan asas kebersamaan, tidak bisa juga dinaikkan atau diturunkan sepihak harganya.

"Kita bersaing sehat saja, agar masyarakat tetap berfikir bahwa kita yang paling murah," katanya.

Sementara itu Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri mengatakan ditengah krisis global yang terjadi, kondisi rupiah masih tergolong baik. Seharusnya kondisi ini harus dimanfaatkan secara bijak.

"Dari rating internasional, rupiah Indonesia masih triple B. Meskipun masih ditengah ketidakpastian krisis global. Disatu pihak juga indikator terjadinya inflasi secara khusus juga cukup baik," ujar Gusti Raizal Eka Putra kepada Tribun, Selasa (4/9/2018).

Sebenarnya produk-produk Indonesia lebih kompetitif. Menariknya, keadaan ini bisa dimanfaatkan untuk mendorong ekspor. Termasuk juga pariwisata ke dalam negeri bisa lebih murah dan mampu meningkatkan kompetitif.

"Walaupun barang impor menjadi mahal, itu lebih baik sehingga orang-orang bisa menggunakan barang-barang lokal," tuturnya. (rus)

Penulis: Roma Uly Sianturi
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help