KURS - 6 Mata Uang Negara Berkembang yang Rontok Hari Ini

Pelemahan nilai tukar mata uang negara- negara berkembang berlanjut hingga hari ini, Rabu (5/9/2018).

KURS - 6 Mata Uang Negara Berkembang yang Rontok Hari Ini
FOTO/KONTAN/GHINA GALIA
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan ilustrasi uang rupiah dan dolar AS 

 TRIBUNBATAM.id -  Pelemahan nilai tukar mata uang negara- negara berkembang berlanjut hingga hari ini, Rabu (5/9/2018).

Setidaknya ada enam negara yang mata uang anjlok cukup parah hingga hari ini, bahkan hingga menyentuh rekor terendah baru.

Mengutip CNBC, nilai tukar rupiah merupakan salah satu yang berkinerja terburuk pada perdagangan hari ini.

Rupiah amblas ke level terendahnya dalam 20 tahun pada Selasa (4/9/2018), yakni pada posisi Rp 14.940.

Rabu siang, rupiah bertengger pada level Rp 14.933 per dollar AS. Angka tersebut melemah 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi pada pembukaan perdagangan, yakni Rp 14.925 per dollar AS.

Baca: Rupiah Tembus Rp 15 Ribu per Dolar AS, Presiden Jokowi: Kita Harus Waspada, Kita Harus Hati-hati

Baca: Rupiah Melemah, 1 Dolar AS Tembus Rp 15.000, Begini Reaksi Gubernur Bank Indonesia

Sementara itu, nilai tukar peso Argentina anjlok sekitar 3 persen hari ini. Pada pekan lalu saja, peso Argentina terjun bebas 16 persen dan sepanjang tahun ini telah merosot nilainya sebesar hampir 50 persen.

Tidak hanya itu, pada hari ini nilai tukar rupee India juga anjlok ke level terendahnya untuk hari ketujuh berturut-turut ke level 71,78 per dollar AS.

Adapun nilai tukar lira Turki juga merosot, melanjutkan pelemahan yang telah terjadi selama beberapa waktu terakhir.

Kemudian, nilai tukar rand Afrika Selatan juga anjlok sekitar 3 persen. Pelemahan ini menyusul data ekonomi yang menunjukkan bahwa ekonomi negara tersebut telah memasuki resesi.

Baca: KURS - Tak Hanya Terhadap Dollar AS, Rupiah juga Melemah dari Mata Uang Regional

Meskipun demikian, para analis menyatakan, investor tidak perlu panik hanya karena sentimen negatif ini.

Karine Hirn dari East Capital mengungkapkan, tekanan ini sebagian diatribusikan dengan penguatan dollar AS dan kenaikan harga minyak. Namun demikian, isu sebenarnya adalah sentimen para trader.

"Kita jangan melupakan itu, secara umum, negara-negara berkembang sangat terekspos kepada sentimen karena banyak investor berasal dari luar negeri dan bukan investor domestik," ungkap Hirn.(*)

Editor: Agus Tri Harsanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved