MOTOGP

Valentino Rossi Malu Gagal Lagi, Kenapa Cuma Yamaha yang Bermasalah? Begini Kisahnya

Alih-alih naik podium MotoGP San Marino, Valentino Rossi justru makin terpuruk dan tidak bergerak sepanjang balapan. Terkunci di posisi 7.

Valentino Rossi Malu Gagal Lagi, Kenapa Cuma Yamaha yang Bermasalah? Begini Kisahnya
TWITTER/YAMAHAMOTOGP
Valentino Rossi 

TRIBUNBATAM.id, SAN MARINO - Alih-alih naik podium MotoGP San Marino, Valentino Rossi justru makin terpuruk dan tidak bergerak dari posisinya sepanjang balapan. Terkunci di posisi 7.

Bahkan, rekan satu tim Valentino Rossi, Maverick Vinales yang pernah dimarahi bos Movistar Yamaha Lin jarvis karena terlalu banyak merengek, justru mampu finis di posisi 5.

Padahal, Valentino Rossi barharap bisa meraih podium di MotoGP San Marino, karena hampir seluruh sirkuit berkapasitas 60 ribu penonton itu, dipenuhi seragam kuning bertulis #46.

Untuk bisa tampil trengginas di Sirkuit Misano, Yamaha dengan dua pebalapnya, Valentino Rossi dan maverick Vinales melakukan persiapan khusus, melakukan dua uji coba di Misano dan Aragon.

Beberapa perubahan dilakukan untuk memperbaiki masalah utama Yamaha yang terus dikeluhkan selama dua tahun terakhir, yakni masalah ECU dan elektronik.

Hal ini dilakukan setelah "membajak" ahli elektronik Yamaha Superbike, Michelle Gadda untuk memimpin divisi khusus elektronik yang sebagian didatangkan dari Jepang.

Baca: Penghitungan Poin MotoGP 2018 - Terlalu Jauh untuk Dikejar Dovizioso, Marc Marquez Cari Aman

Baca: Karir Pebalap Moto2 Romano Fenati Gelap. Dipecat Timnya dan Kontrak dengan Tim Baru Diputus

Baca: Hasil Lengkap & Klasemen MotoGP Setelah GP San Marino. Andrea Dovizioso Geser Valentino Rossi

Tapi, hasilnya masih jauh dari harapan. Yamaha tak bisa juga comeback dan tercecer sangat jauh dari pesaingnya, bahkan pebalap muda Suzuki, Alex Rins yang berhasil finis di posisi 4.

Tidak hanya frustasi, Valentino Rossi bahkan mengatakan bahwa performanya di Misano sangat memalukan.

"Honda dan Ducati memiliki waktu lap yang sama persis seperti kemarin. Saya malah satu detik lebih lambat," kata Valentino Rossi kesal.

"Sangat memalukan tidak kompetitif di Misano, di depan semua penonton. (Padahal) saya berharap menjadi lebih kuat karena kemarin di FP4 saya tidak terlalu buruk."

"Untuk beberapa alasan yang kami tidak mengerti, hari ini semuanya lebih sulit. Sudah sejak pagi kami melakukan pemanasan, kami sangat berjuang. Saya dan Maverick, juga (Johann) Zarco. Sialnya sore hari, bahkan dengan kondisinya sangat mirip dengan Sabtu sore, perasaan saya dengan motor dan ban lebih buruk. Lebih sulit di mana-mana."

"Sudah dari setengah putaran pertama, saya mengerti bahwa itu tidak sama dengan kemarin, ketika saya melakukan (kecepatan) '32,9; '33, 0; '33, 1; ... '33, 2 setelah 16 putaran. Saya satu detik lebih lambat," katanya.

Apa sebenarnya yang salah pada Yamaha sehingga tak pernah meraih satu gelar pun selama 22 balapan sejak tahun 2017?

Sebenarnya, apa yantg dikatakan pengamat MotoGP Marco Penat ada benarnya bahwa masalah utama Yamaha bukan pada elektronik, tetapi masalah organisasi tim Yamaha yang dipimpin oleh Lin Jarvis.

Berawal dari ECU

Lin Jarvis awalnya sangat mengabaikkan masalah elektronik setelah Dorna memutuskan penggunaan ECU seragam mulai MotoGP 2016.

Sebelumnya, seluruh pabrikan membawa perangkat ECU masing-masing dari pabriknya, namun hal ini membuat balapan tidak kompetitif karena tim satelit dan CRT (tim independen yang memakai mesin pabrik tertentu) tidak bisa mengembangkan motor mereka karena terbatasnya database untuk pengembangan motor.

Mereka menggunakan motor yang usianya lebih tua dari pabrikan sementara mereka harus melakukan set up sendiri ECU mereka.

Sikap anggap enteng Lin Jarvis ini ternyata membuat petaka. Sebab, ECU Magneti Marelli yang digunakan MotoGP tidak sinkron dengan IMU atau inertial measurement unit ( IMU ) inhouse bawaan pabrik.

Lin Jarvis bersama dua pebalap Movistar Yamaha, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo
Lin Jarvis bersama dua pebalap Movistar Yamaha, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo (crash net)

Untuk diketahui, ECU adalah perangkat elektronik untuk mengkobinasikan 26 sensor aerodinamika motor, terutama saat pengereman dan troksi yang dihasilkan saat keluar dari tikungan, saat pebalap menggeber gas lagi.

Data inilah yang kemudian dibaca oleh IMU.

Masalahnya, data ECU Magneti Mirelli tidak bisa dibaca oleh IMU, terutama data acclerometer dan gyroscopekondisi saat menikung sehingga hal ini menyulitkan tim untuk membangun set up motornya.

Hal ini diungkapkan oleh pebalap Stefan Bradl ketika masih menjadi pebalap Yamaha. 

Bradle mengatakan, IMU mengalami disorientasi saat membaca software ECU Magneti Marelli di tikungan.

Inilah kebingungan yang dihadapi Yamaha. Apalagi tim tersebut mempesiunkan kepala tim teknik Masao Furusawa sejak Lin jarvis berkuasa.

Kenapa Honda dan Ducati bisa lebih baik?

Lagi-lagi, Lin Jarvis harus mengakui bahwa sikap anggap entengnya terhadap penyeragaman ECU membuat mereka tidak melakukan apa-apa selain menyiapkan mesin dan chasis baru.

Berbeda dengan Ducati yang sejak rencana Dorna ini diumumkan tahun 2013, mereka kabarnya telah menyusupkan stafnya ke pabrik tersebut.

Rumor yang berkembang, The Reds kabarnya melakukan pemecatan palsu terhadap stafnya tersebut untuk bisa bekerja di perusahaan yang memproduksi sistem, modul, dan komponen berteknologi tinggi untuk digunakan di industri otomotif itu.

KTM pernah menyuarakan hal ini namun Ducati membantahnya.

Benar atau tidak rumor tersebut memang belum terbukti hingga sekarang kendati hal itu sangat mungkin. Toh, mereka sama-sama perusahaan Italia.

Namun ada pengembangan lain yang dilakukan The Reds yang tak kalah pentingnya, terutama sejak pertengahan musim MotoGP 2017 lalu.

Ducati melakukan modifikasi sayap atau fairing yang lebih lebar agar motor bertenaga besar itu bisa mengimbangi kelincahan Yamaha dan Honda di tikungan.

Sementara Honda menggunakan taktik lain, yakni mencari eks karyawan Magneti Mirelli untuk dipekerjakan di tim mereka.

Cara ini juga ampuh karena mereka bisa menyesuaikan perangkat ECU baru itu dengan set up motor.

Bahkan, Honda justru semakin sulit disaingi oleh pebalap lain, terutama Marc Marquez, yang selalu melakukan cara menarik untuk memaksimalkan motornya.

Seperti diketahui, Marquez adalah pebalap yang paling sering jatuh di saat latihan bebas karena ia selalu memaksimalkan daya dorong motornya di tikungan sekuat yang dia bisa.

Bahkan kalau perlu tidak menginjak rem saat menikung agar tidak kehilangan troksi motor.

Hingga saat ini, Marc Marquez adalah satu-satunya pebalap yang bisa menikung dengan kemiringan 60-62 derajat, termasuk manuver mengandalkan lutut untuk menjaga motor tak jatuh.

Tech 3 dan ban Michelin

Masalah semakin bertubi-tubi karwna sejak tahun 2016 juga, MotoGP menggunakan ban baru, Michelin sehingga pekerjaan rumah tim mekanik semakin banyak.

Meskipun tim setelit Yamaha, Tech3 berhasil mengatasi masalah elektronik, tetapi mereka justru keteter dalam menjaga performa ban dari awal hingga akhir.

Lihat saja Johann Zarco yang selalu tampil impresif saat latihan bebas hingga kualifikasi, bahkan bisa meninggalkan lawan dalam setengah balapan, namun akhirnya menyerah di setengah balapan terakhir.

Sepanjang 2017, Johann Zarco mencatat dua kali fastest lap dan tiga kali naik podium meskipun belum pernah meraih juara.

Posisinya di klasemen di urutan ketujuh, hanya satu tingkat di bawah Rossi.

Pembedanya, Zarco adalah pebalap rookie yang baru naik kelas dari Moto2 sehingga dari segi pengalaman sangat jauh dibandingkan Rossi.

Bahkan, jika melihat statistik tahun 2017, Marc Marquez lebih sering memimpin balapan di 10 akhir tersisa. 

Pertanyaannya, apakah Yamaha bisa comeback tahun 2019?

Banyak yang pesimistis soal hal ini. Selain mereka belum bisa mengatasi masalah ECU, mulai balapan 2019, Dorna juga menyeragamkan IMU seluruh motor.

Selain itu, Tech3 juga akan pindah ke KTM sehingga Yamaha harus bekerja lebih keras untuk mempelajari database M1 yang akan ditunggangi Rossi dan Vinales.

Kepindahan Tech3 ini juga kabarnya gara-gara Lin jarvis juga, tidak mau menyamakan motor pabrikan dengan satelit sehingga Tech3 juga tidak mau membagikan data mereka untuk Yamaha.

Sikap keras kepala Jarvis ini banyak dikritik, termasuk oleh Rossi sendiri.

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved