Upacara Langit Bumi Segara, Ritual Rasa Syukur Petani-Nelayan di Bantul. Begini Prosesinya

Upacara Langit Bumi Segara merupakan upacara sakral. Sebagai doa dan harapan menuju masyarakat Srigading sejahtera dan Samas baru.

Upacara Langit Bumi Segara, Ritual Rasa Syukur Petani-Nelayan di Bantul. Begini Prosesinya
Tradisi warga di Kabupaten Bantul, DIY. 

TRIBUNBATAM.id, YOGYAKARTA - Warga Desa Srigading, Bantul, DI Yogyakarta, menggelar upacara Langit Bumi Segara di Pantai Samas, Selasa(11/9/2018) siang.

Upacara yang dihadiri oleh ribuan warga ini merupakan bentuk rasa syukur warga atas karunia yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Lurah Desa Srigading, Wahyu Widodo, mengungkapkan, upacara Langit Bumi Segara merupakan upacara sakral. Sebagai doa dan harapan menuju masyarakat Srigading sejahtera dan Samas baru.

"Makanya (dalam upacara ini) ada simbol kita menyembelih kerbau. Itu satu filosofi hijrah atau perubahan. Yang intinya masyarakat Srigading siap meninggalkan jahiliyah, siap meninggalkan kesesatan dan kebodohan," katanya, Selasa (11/9/2018).

Baca: CPNS 2018 : Ingin Lamar di BUMN, Ingat Diberlakukan Tes Sistem Gugur

Baca: Pawai Obor, Semarakan 1 Muharam 1440 Hijriyah di Gunung Kijang

Baca: Istana Changdeokgung Korsel yang Dikunjungi Jokowi. Ini 5 Fakta Menariknya

Ia menegaskan, bahwa upacara ini juga merupakan bagian dari komitmen deklarasi 23 Desember 2017. Dengan visi segara mukti menuju srigading sejahtera dan samas baru.

"Jadi ini sebetulnya bagian dari publikasi kepada khalayak bahwa kita komitmen berubah, menuju kearah yang lebih baik," terangnya.

Upacara ini sebenarnya tradisi yang sudah dilakukan secara rutin setiap tahun oleh masyarakat Srigading. Namun tahun ini dikemas berbeda. Karena berbarengan dengan ritual pertanian Mahesa Sura dan Nelayan Jala Mina.

Tujuannya sebagai ungkapan rasa syukur atas kenikmatan dan karunia Tuhan yang melimpah.

Wahyu mengumpamakan, Tuhan ketika disimbolkan langit, maka turun ke bumi akan berwujud menjadi tanaman. Tanaman itu akan bisa dinikmati oleh para petani dan masyarakat.

"Ketika (Tuhan) turun ke laut maka akan berwujud menjadi ikan dan bisa dinikmati oleh para nelayan," tuturnya.

Upacara Langit Bumi Segara diawali sejak malam hari dengan tradisi Mahesa Sura yang kemudian dilakukan penyembelihan satu ekor kerbau.

Daging kerbau dimasak bersama-sama oleh masyarakat dan kepalanya dilarung ke tengah laut. Prosesi pelarungan ini berlangsung sakral. Kepala kerbau dibawa ke tepi pantai dengan menggunakan jodhang yang diusung oleh empat abdi. Prosesi ini juga dikawal dengan tetabuhan, kesenian, dan puluhan bregada.

Setibanya di tepi pantai, kepala kerbau kemudian dilarung dengan menggunakan kapal jukung nelayan.

Melarung kepala kerbau ini, diungkapkan Wahyu, merupakan bagian dari menjaga keseimbangan alam.

"Dilarung ke laut itu supaya ikan bisa makan kepala kerbau dan nantinya bisa gemuk. Pada akhirnya ikan itu bisa ditangkap oleh nelayan samas dalam keadaan besar dan sehat. Ini siklus menjaga keseimbangan alam," ungkap dia. (tribunjogja)

Editor: Purwoko
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help