Angka Cerita

Heboh Rumah Pak Eko Terkepung Tetangga, Inilah 2 Rumah Dengan Persoalan Hampir Serupa

Dua rumah di Jakarta ini sempat heboh seperti rumah terkepung Pak Eko di Ujungberung, Kota Bandung. Begini detailnya

Heboh Rumah Pak Eko Terkepung Tetangga, Inilah 2 Rumah Dengan Persoalan Hampir Serupa
FACEBOOK
Rumah Pak Eko 

TRIBUNBATAM.ID, JAKARTA-Akhir-akhir ini, media diramaikan informasi tentang sepetak rumah di Ujungberung, Kota Bandung milik seorang warga bernama Eko, yang tidak memiliki akses keluar-masuk.

Sebab, rumah Eko terkepung bangunan rumah tetangga di kanan, kiri, depan, juga belakangnya.

Diketahui, Eko maupun tetangga-tetangganya mendirikan bangunan rumah permanen di atas tanah milik masing-masing. Jadi secara hukum tidak ada aturan yang dilanggar.

Akan tetapi, Eko dengan rumah di antara bangunan-bangunan itu juga memiliki hak untuk dapat mengakses lahan dan bangunan yang ia miliki.

Baca: Terpaksa Kontrak Rumah, 2 Tahun Pak Eko Terusir dari Rumah Sendiri Akibat Jalan Tertutup Tetangga

Baca: Kisah Mauro, Minum Darah Kelelawar dan Urine Sendiri Demi Bertahan Hidup Selama 9 Hari di Gurun

Baca: Setelah Dibubarkan, Inilah Alasan Banyak Anggota Tjakrabirawa Kabur ke Thailand Jadi Biksu-Petani

Baca: Duterte Tantang Militer Filipina Lakukan Kudeta, Begini Sesumbarnya

Permasalahan tersebut masih dalam proses penyelesaian hingga hari ini (12/9/2018) dan ditangani oleh pemerintah setempat.

Ternyata, hal itu bukan hanya dialami oleh Eko seorang. Dua rumah di Jakarta juga pernah mengalami nasib serupa.

1. Rumah Bintaro

Kondisi rumah Denny (41) yang bagian depan rumahnya ditembok oleh warga sekitar karena dianggap tidak berizin di Perumahan Bukit Mas Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (2/11/2015)
Kondisi rumah Denny (41) yang bagian depan rumahnya ditembok oleh warga sekitar karena dianggap tidak berizin di Perumahan Bukit Mas Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (2/11/2015) (KOMPAS.COM/ANDRI DONNAL PUTERA)

Pada 2015 sebuah bangunan berlantai 2 di daerah Bintaro, Jakarta Selatan, diblok oleh warga sekitar dengan pagar tinggi tepat di depan bangunan rumah.

Sebelum dibangun rumah, lahan kosong milik seseorang bernama Heru memiliki izin menghadap ke Jalan Mawar, di belakang komplek Perumahan Bintaro Mas.

Namun saat dibangun, Heru mendirikan bangunan dengan menghadap ke arah Jalan Cakra Negara, sejajar dengan rumah lain di kompek perumahan tersebut, bukan ke arah Jalan Mawar.

Atas ketidaksesuaian itu, warga yang menyebut dirinya sebagai Warga Peduli Bukit Mas (WPBM) menutup halaman rumah Denny dengan pagar berbahan bata ringan setinggi kurang lebih 2 meter.

Kemudian, pemilik mengurus perizinan baru agar rumah yang terletak di ujung Jalan Cakra Negara tersebut bisa menghadap ke arah sesuai bangunan itu dibangun.

Setelah perizinan selesai diurus, warga pun membongkar pagar buatannya yang sebelumnya menghalangi akses rumah di Jalan Cakra Negara dan membangun pagar baru di batas tanah yang menghadap Jalan Mawar.

Penyelesaian pembangunan pun berjalan mulus dan rumah tersebut dijual oleh Heru kepada Denny (44) pada Juni 2015.

2. Rumah Jakarta Timur

Warga RW 07 Kelurahan Kayu Putih, Jakarta Timur memprotes penutupan jalan yang dilakukan oleh anggota DPR RI. Penutupan itu diketahui sebagai bagian rencana anggota DPR tersebut untuk membangun sebuah gedung stasiun televisi di sekitar kawasan itu, Kamis (17/8/2017)
Warga RW 07 Kelurahan Kayu Putih, Jakarta Timur memprotes penutupan jalan yang dilakukan oleh anggota DPR RI. Penutupan itu diketahui sebagai bagian rencana anggota DPR tersebut untuk membangun sebuah gedung stasiun televisi di sekitar kawasan itu, Kamis (17/8/2017) (Kompas.com/David Oliver Purba)

Warga RW 07 Kelurahan Kayu Putih, Jakarta Timur dibingungkan dengan adanya pembangunan pagar tembok di kawasannya yang menutup akses jalan masyarakat menuju jalan raya.

Tembok itu diketahui milik anggota Fraksi Partai Hanura DPR RI, Nurdin Tampubolon, dan akan digunakan untuk membangun sebuah gedung stasiun televisi.

Warga menyayangkan tidak adanya sosialisasi yang dilakukan sebelum pembangunan pagar dimulai.

Sementara Nurdin menganggap tidak perlu diadakan sosialisasi karena ketua RT dan RW setempat sudah menandatangani bahwa warga menyetujui dilakukan penembokan jalan.

Padahal warga sama sekali tidak mengetahui hal itu, kalau lah benar RT dan RW sudah memberikan persetujan persetu, persetujuan itu bersifat sepihak dan tidak diketahui warga masyarakat.

Tuntutan pun dilayangkan, warga dibantu sebuah LBH menggugat SK Gubernur yang membebaskan lahan MHT di RT 016 RW 07, Kampung Baru, Kelurahan Kayu Putih, Jakarta Timur, sehingga pembangunan itu berjalan. (*)

Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Selain Rumah Eko, Dua Lahan Ini Juga Pernah Bermasalah soal Akses

Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved