Bolehkah Puasa Asyura 10 Muharram Tanpa Puasa Tasu'a? Simak Penjelasannya

Puasa Tasu'a dilakukan tiap 9 dan 11 Muharram, sementara Asyura pada 10 Muharram. Bolehkah hanya puasa Asyura saja?

Bolehkah Puasa Asyura 10 Muharram Tanpa Puasa Tasu'a? Simak Penjelasannya
NU ONLINE
ilustrasi puasa 

TRIBUNBATAM.id - Saat bulan Muharram ini, ada dua puasa yang disunnahkan untuk dikerjakan.

Kedua puasa itu adalah tasu'a dan puasa asyura.

Puasa Tasu'a dilakukan tiap 9 dan 11 Muharram, sementara Asyura pada 10 Muharram.

Kita bisa melaksanakan keduanya atau salah satunya saja.

Dikutip dari NU Online dalam artikel diterbitkan pada Sabtu (30/9/2017) membahas tentang keutamaan puasa Asyura.

Allah SWT akan mengampuni dosa setahun lalu orang yang berpuasa 10 Muharram.

Baca: 2 Hari Lagi, Ini Jadwal dan Niat Puasa Tasu’a, Asyura Serta Ayyamul Bidh Selama Muharram

Baca: Kapan Puasa 10 Muharram Atau Puasa Asyura 2018 Dilaksanakan? Simak Juga Keutamaannya

Baca: Puasa 10 Muharram Bisa Hapuskan Dosa Kecil Setahun. Ini Lafadz dan Niat Puasa Asyura

Masalah ini disinggung dalam Fathul Mu‘in karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari.

و) يوم (عاشوراء) وهو عاشر المحرم لأنه يكفر السنة الماضية كما في مسلم (وتاسوعاء) وهو تاسعه لخبر مسلم لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع فمات قبله والحكمة مخالفة اليهود ومن ثم سن لمن لم يصمه صوم الحادي عشر بل إن صامه لخبر فيه

Artinya, “(Disunahkan) puasa hari Asyura, yaitu hari 10 Muharram karena dapat menutup dosa setahun lalu sebagai hadits riwayat Imam Muslim. (Disunahkan) juga puasa Tasu‘a, yaitu hari 9 Muharram sebagai hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalau saja aku hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tasu‘a.’ Tetapi Rasulullah SAW wafat sebelum Muharram tahun depan setelah itu. hikmah puasa Tasu‘a adalah menyalahi amaliyah Yahudi. Dari sini kemudian muncul anjuran puasa hari 11 Muharram bagi mereka yang tidak berpuasa Tasu‘a. Tetapi juga puasa 11 Muharam tetap dianjurkan meski mereka sudah berpuasa Tasu‘a sesuai hadits Rasulullah SAW,” (Lihat Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari, Fathul Mu‘in pada hamisy I‘anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz II, halaman 301).

Agar berbeda dari kaum Yahudi di masa Rasulullah, kita juga dianjurkan untuk berpuasa pada 9 dan 11 Muharram.

Pasalnya, kaum Yahudi saat itu hanya berpuasa pada 10 Muharram.

Halaman
12
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved