Kerugian Capai Rp 15 Miliar, Inilah Dua Tersangka Korupsi Pembangunan Pelabuhan Dompak

tersangka ini tidak mengendalikan kontrak dengan secara baik. Tetapi mereka tetap membayarkan uang pengerjaan sebanyak 100 persen

Kerugian Capai Rp 15 Miliar, Inilah Dua Tersangka Korupsi Pembangunan Pelabuhan Dompak
TRIBUNBATAM/EKO SETIAWAN
Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi saat ekspos dugaan korupsi pembangunan pelabuhan Dompak, yang berlangsung di Polda Kepri, Kamis (27/9/2018) 

TRIBUNBATAM.id, BATAM-Polres Tanjungpinang menetapkan dua orang tersangka dalam kasus Korupsi di KSOP terkait pembangunan Pelabuhan Dompak di Tanjungpinang.

Dalam ekpose yang berlangsung di Polda Kepri, Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi mengatakan, dalam kasus ini dua orang ditetapkan sebagai tersangka.

Masing-masing Hariyadi selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan Berto Riawan merupakan Direktur PT Karya Tunggal Mulya Abadi. Sememtara untuk kerugian negara mencapai, Rp 5 miliar.

"Dalam kasus ini ada dua orang yang di tetapkan sebagai tersangka. Satu orang Pegawai KSOP dan satu lagi direktur perusahaan pengadaan jasa," sebut Ucok menerangkan.

Dari hasil pemeriksaan penyidik, diketahui Hariadi melakukan perubahan pengerjaan. Seharusnya dalam kontrak mereka membangun gardu listrik 10 KVA. Namun dalam kenyataanya mereka malah membanangun Breakwater. Mirisnya lagi, pembangunan ini tanpa adanya pengkajian dari tenaga Ahli.

"Selain itu, tersangka ini tidak mengendalikan kontrak dengan secara baik. Tetapi mereka tetap membayarkan uang pengerjaan sebanyak 100 persen," sebutnya.

Baca: 10 Fakta Penyelidikan Korupsi Pelabuhan Tanjungmoco, Kasipidsus Kejari Tanjungpinang Akui Tidak Tahu

Baca: Hariadi Tersangka Dugaan Korupsi Pelabuhan Dompak, Kini Berstatus Terperiksa Kasus Lainnya

Namun kenyataanya dilapangan, pengerjaan Breakwater juga tidak selesai. Untuk biaya perawatan, pelaku juga dengan sengaja melakukan pemalsuan dokumen. Seolah-olah yang dibangunya tersebut dalam perawatan rutin.

"Memalsukan dokumen PHO dan juga memalsukan tanda tangan Tamrin selaku Pejabat penerima hasil pekerjaan," tegasnya.

Sementara Berto Irawan keterlibatanya dalam hal ini adalah penyediaam barang. Dalam pengecekan dilapangan, ternyata barang yang diminta tersebut tidak ada. Bahkan Berto kembali memberikan pekerjaan ini kepada perusahaan lain.

"Dan ini tidak sesuai dengan perjanjian awal dan melanggar aturan. Apalagi tidak adanya barang yang dikatakan dalam pengadaam tersebut," tegasnya.

Sejauh ini, penyidik masih melakukan pemeriksaam terkait masalah ini. Belum ada tersangka lain. "Namun kita masig melakukan pemeriksaan terkait aliran dananya kemana saja," tegasnya.

Selama proses dilakukan, Pengerjaan proyek sejauh ini di hentikan.(koe)

Penulis:
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved