BATAM TERKINI

Batam, Daerah Rawan Masuk Makanan dan Kosmetik dari Luar Negeri

"Ini terjadi karena ada permintaan obat dan makanan yang cukup tinggi di Indonesia. Ini bisa membuat generasi akan datang terkontaminasi

Batam, Daerah Rawan Masuk Makanan dan Kosmetik dari Luar Negeri
TRIBUNBATAM/DEWI HARYATI
focus group discussion pemberantasan obat dan makanan ilegal di Haris Hotel Batam Center, Kamis (11/10/20108) 

TRIBUNBATAM.id, BATAM-Batam, Kepri menjadi satu dari empat provinsi di Indonesia yang rawan terhadap masuknya barang ilegal. Termasuk di dalamnya makanan, obat-obatan dan kosmetika yang masuk dari luar negeri.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Penindakan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Hendri Siswadi saat kegiatan focus group discussion pemberantasan obat dan makanan ilegal, Kamis (11/10/20108) bertempat di Haris Hotel Batam Center.

Selain Batam-Kepri, juga termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sumatera Utara.

"Ini terjadi karena ada permintaan obat dan makanan yang cukup tinggi di Indonesia. Ini bisa membuat generasi akan datang terkontaminasi produk di luar ketentuan BPOM. Terutama daerah yang jadi pintu masuk obat dan makanan ilegal," kata Hendri.

Dalam hal ini, untuk Batam, Hendri mengatakan, setiap makanan, obat-obatan maupun kosmetika yang masuk dari luar negeri, perlu diwaspadai. Asumsi yang dibangun, produk dari luar seperti susu, makanan lainnya, enak dan tak ada masalah.

"Tapi satu hal yang perlu dipahami. Apabila produk yang masuk itu ada masalah di lapangan, siapa yang akan bertanggungjawab?," tanyanya.

Karena itu, untuk BPOM sendiri, ia mengingatkan harus berada di depan. Melindungi masyarakat dari mengonsumsi obat-obatan, kosmetik dan makanan yang tak memenuhi persyaratan BPOM. Di sisi lain, Hendri juga menegaskan, pemberantasan terhadap makanan, obat-obatan dan kosmetik ilegal itu tak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Perlu peran bersama pihak terkait.

"Kita kerja sama dengan Kejaksaan, Bea dan Cukai. Kita intensifkan koordinasinya," kata Hendri.

Selain itu, pihaknya pun akan melakukan pemetaan melihat kerawanan kasus. Pihaknya melakukan identifikasi kepada pelaku-pelaku yang bermain. Jika selama ini masih pelaku-pelaku 'pinggiran' yang terjaring, ke depan pihaknya akan mencari pelaku utama di balik peredaran obat, makanan dan kosmetik tanpa izin edar tersebut di Indonesia.

"Kita cari pelaku utamanya. Sudah ada beberapa yang dapat. Jenisnya itu makanan dan kosmetik. Ada tren-trennya. Kalau mau lebaran, trennya makanan yang banyak," ujarnya.

Baca: Tabrakan Fery VOC Batavia, Dua Penumpang Alami Luka. Ini Penjelasan Basarnas

Baca: Insiden Mv. VOC Batavia dan Kapal Tanker, Begini Kesaksian Penumpang

Baca: BREAKINGNEWS. Kapal Ferry Rute Anambas-Tanjungpinang Dikabarkan Kecelakaan

Di tempat yang sama, Kepala Kejaksaan Tinggi Kepri, Asri Agung Putra mengatakan, untuk penuntutan dan pembuktian tindak pidana di bidang obat dan makanan, pihaknya cukup berhati-hati.

Tak sekadar mencocokkannya ke dalam rumusan pasal yang ada. Penindakan hukumpun menjadi pilihan terakhir.

Dalam implementasinya, lebih dikedepankan harus punya efek jera dan menangkal orang lain supaya tidak melakukan hal yang sama. Itulah konsep filosofi dari penindakan hukum idealnya.

"Kita sekarang kedepankan kualitas bukan jumlahnya. Dulu memang ada target sekian, sekian, kaitannya ke prestasi. Tapi akibatnya ngawur. Malah semakin banyak yang melakukan," kata Agung.

Lebih lanjut, Agung mengatakan, terapi untuk membuat efek jera dan menangkal agar tak terulang kasus yang sama, berbeda-beda setiap orang. Karena itu, untuk sanksinyapun mesti disesuaikan. (wie)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Zabur Anjasfianto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved